Oksibil,(Mandalapapua.id)– Ketua Dewan Pengurus Paroki Roh Kudus Mabilabol, Emanuel Urpon, menyampaikan bahwa usia 66 tahun bagi paroki bukanlah perjalanan yang singkat, melainkan perjalanan panjang yang penuh rahmat, perjuangan, pengorbanan, dan kesetiaan umat dalam membangun Gereja Tuhan di tengah masyarakat.
hal ini disampaikan dalam sambutan pada perayaan HUT Paroki Roh Kudus Mabilabol ke-66 pada Minggu (10/05/2026), Emanuel menjelaskan bahwa Gereja Katolik pertama kali membawa pengaruh luar ke tanah Pegunungan Bintang 66 tahun yang lalu di sibil banalbakon.”Orang tua kita kala itu memiliki berbagai kekurangan dan ketidaktahuan, namun dengan rasa kebaikan yang ada di hati mereka, mereka menerima ajaran Katolik dan meletakkan dasar yang kokoh di tempat ini,” ujarnya.
“Awalnya mereka tidak tahu bagaimana masa depan gereja akan menjadi seperti apa, namun apa yang kita rasakan dan nikmati saat ini adalah hasil dari perjuangan mereka yang tidak pernah menyerah. Setelah mereka meletakkan dasar, perkembangan gereja semakin maju anak-anak kita kini sudah sangat pintar, namun sayangnya ada yang menjauh dari Gereja,” tambahnya.
Emanuel mengajak seluruh umat untuk menjadikan momen ulang tahun ke -66 ini sebagai kesempatan untuk memperbaharui semangat pelayanan, mempererat persatuan, dan menumbuhkan kasih satu sama lain. “Gereja ini akan terus hidup dan berkembang apabila seluruh umat berjalan bersama dalam kasih, gotong royong, dan semangat melayani,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa tema perayaan tahun ini tidak hanya menjadi slogan, melainkan bahan renungan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. “Gereja telah bertahun-tahun meletakkan dasar untuk pendidikan dan pembangunan fisik.
Bahkan sebelum pemerintahan daerah hadir, Gereja sudah mempersiapkan segala sesuatu. Pemerintahan sekarang berjalan di atas dasar pembangunan yang sudah disiapkan oleh Gereja Katolik selama 66 tahun, artinya Gereja sudah lebih dewasa,” jelasnya.
Emanuel juga mengajak generasi penerus Gereja Katolik di daerah ini untuk membuka mata dan telinga, kembali ke “rumah” Gereja sebagai tempat mempersiapkan sumber daya manusia lokal. “Mari kita merefleksikan seluruh karya yang sudah dibangun oleh pendahulu kita. Mereka saat itu punya pengetahuan terbatas namun tetap berjuang tanpa meminta balas jasa,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa para pendahulu tidak pernah meminta balasan atau honor untuk pembangunan gereja. “Mereka hanya bisa berbahasa Indonesia sedikit, namun mereka berjalan jauh ke pelosok daerah untuk membangun Gereja Katolik. Itulah yang membuat Gereja tetap hidup hingga saat ini,” ujarnya.
Selain itu, Emanuel menyampaikan bahwa pada perayaan HUT ke-66 ini, sebanyak 11 umat baru telah dibaptis dan diterima menjadi bagian dari gereja. “Kita juga menerima anak-anak yang datang dari luar daerah untuk dibaptis di sini. Saya mengajak seluruh umat untuk tidak hanya datang ke gereja saat ada acara besar saja, namun jadikan gereja sebagai rumah untuk berkumpul dan merencanakan masa depan daerah,” pungkasnya.
Sebagai penutup, Emanuel meminta maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan dan mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung perayaan HUT Paroki ke-66, termasuk kepada mereka yang dengan ikhlas mempersembahkan hasil karya untuk kemajuan gereja dan daerah.*(Aquino Ningdana)


Tidak ada Respon