Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wpforms-lite domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wordpress-seo domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Untuk Mu Papua-Ku, “Sebuah Ungkapan Hati” - Aktual Tajam dan Terpercaya <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-4547656984540270" crossorigin="anonymous">

Untuk Mu Papua-Ku, “Sebuah Ungkapan Hati”

Mandala Papua
Foto Ilustrasi 7 Wilayah Adat Papua
A-AA+A++

OLEH YULIANUS MAGAI

Tanah Papuaku yang indah dan mempesona, Indah bagaikan burung Cendrawasih. Papuaku engkau dijuluki sebagai sebuah pulau yang memiliki banyak gunung yang menjulang tinggi. Papua engkau juga dihiasi dengan berbagai adat isti-adat yang begitu indah dipandang dan punya makna. Papuaku engkau di temani dengan berbagai bahasa  daerah yang begitu berbeda. Engkau dihuni oleh orang kulit hitam-keriting rambut. Itulah kau pujaan hatiku-tanah Papuaku. Keelokanmu dan keindahanmu bagai burung Cenderawasih (Burung Emas) yang menggiurkan, tetapi saying semua keelokan itu telah dirusak oleh perilaku dan tindakan manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab terhadapmu.

Dengan melihat realita yang kualami dan terpampang dihadapan mataku, Papuaku, aku iba pada dirimu yang sedang diperkosa, dikucilkan, dijarah dan bahkan dirampas juga oleh  manusia-manusia berhati iblis tak  berperikemanusiaan. Semoga Tuhan mengampuni dan merubah niat dan cita-cita mereka yang tidak beradab itu. Di manakah kehidupan dan keindahanmu? Oh Papuaku, tanahku yang kaya, indah dan mempesona. Aku ingin bersahabat denganmu.

Adat istiadat semakin hari semakin manghilang. Kehilangan adat istiadat membawa  dampak kehilangan warisan dan jati diri. Adat istiadat yang seharusnya kita jaga keberadaannya, justru malah sedikit demi sedikit mulai punah. Kebanyakan orang Papua lupa dengan adat istiadatnya sendiri. Keberadaan budaya luar di Papua dan keengganan orang Papua sendiri dalam melestarikan budayanya  merusak sendi-sendi hidup berbudaya  anak bangsa Wast Papua.

Bahasa daerah di Papua yang kaya akan ragam bahsanya semakin hari semakin musnah. Bagiku, kehilangan bahasa adalah hal yang menyakitkan.  Pemekaran wilayah otonomi baru turut mempermudah pemusnahan asset-aset budaya papuaku. Artinya pemekaran hanya dijalankan demi kepentingan sepihak, kepentingan elit-politik, tanpa mempertimbangkan suara akar rumput (rakyat), sehingga banyak konsekuensi yang harus diterima oleh orang Papua, seperti bahasa daerah yang semakin hari semakin punah. Di mana-mana dituntut   berbahasa Indonesia sedangkan bahasa ibu Papua yang luhur diabaikan bahkan berujung kehilangan eksistensinya dalam hidup dan kehidupan orang Papua. Jika bahasa sebagai salah satu identitas diri tidak kita jaga, apa lagi yang kita andalkan untuk menunjukkan jati diri kepapuaannya?

Berdasarkan pengalaman nayata yang saya alami, Teman-temanku menceritkan bahwa di Papua itu ada banyak bahasa daerah, tetapi kebanyakan dari teman-temanku tidak mengetahui bahasa daerahnya. Dengan pengalaman yang demikian, saya sering menjadi resah dan gelisah di dalam diriku, sebab bahasa daerah saja kita tidak tahu. Apakah hal demikian terjadi karena faktor kawin campur, malas belajar  atau lahir besar kota sehingga anak-anak ini melupakan budayanya sebagai identitas dan jati diri mereka?

Hal lainnya yang lebih memprihatinkan adalah lenyapnya pemilik ragam bahasa papua itu sendiri, yaitu penghuni bumi Papua (Orang Asli Papua). Sebagian lenyap karena meregang nyawa ditembusi timah panas. Katanya mereka adalah pengganggu keutuhan NKRI. Penjajah sematkan istilah GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) pada mereka. Bagi Orang Papua mereka dihormati sebagai anggota Gerakan Pendukung Kemerdekaan (GPK). Sebagian menghadap hadirat Tuhan karena sudah waktunya Tuhan memanggilnya kembali. Sebagian lagi menjaga kokohnya tembok-tembok dan tingginya jeruji besi penjara-penjara kolonial.  Orang asli Papua ini dianggap pendukung separatisme.

Mereka dianggap layak hidup disana oleh penjajah. Padahal mereka hanya memprotes secara terbuka atas ketidak adilan yang diterima kaumnya oleh penjajah tanah leluhur Papua. Yang lain lagi dihilangkan secara diam-diam karena menentang kepentingan, mengganggu kenyamanan dan terancam keuntungan ekonominya. Orang Papua yang dihabisi dalam kategori ini berhubungan dengan ekonomi. Ketika mereka harus mempertahankan hak ulayatnya demi melestarikan hutan dan segala isinya demi keberlangsungan hidup, mereka justru dianggap sebagai orang yang tak mendukung pembangunan. Entah pembangunan untuk siapa. Jika pembangunan datang untuk masyarakat, mengapa masyarakat yang mempertahankan alamnya harus dipersulit dengan berbagai hukum dan aturan yang tak adil sehingga alamnya diberhangus?

Menurut saya, Pepera tahun 1969 yang manipulatif adalah jalan masuk penjajah melakukan ketidak adilan dan kekerasan dengan moncong senjata terhadap orang Papua dan segala keberadaannya. Kekerasan, pemasungan hak berbicara, intimidasi, terror, ancaman, pemerkosaan, penghilangan secara paksa, pembunuhan, pemenjaraan, penjarahan serta perampasan SDA, dan pengerdilan hak-hak dasar orang papua telah terjadi sejak lama dan akan terus dilakukan selama papua masih bergabung dalam bingkai NKRI. Singkatnya orang Papua akan mengalami ketidakadilan tak berujung selama masih hidup dalam sistem dan bingkai NKRI.

 

Penulis: Yulianus Magai,  Pelajar di SMK Negeri 3 Jayapura, Papua.

Editor :  Sostenes Uropmabin

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *