Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wpforms-lite domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wordpress-seo domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Ketika Tarian Limne Harus Dilestarikan - Aktual Tajam dan Terpercaya <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-4547656984540270" crossorigin="anonymous">

Ketika Tarian Limne Harus Dilestarikan

Mandala Papua
Tarian Adat Pegunungan Bintang, Papua, Dok. Tribunpapua.id
A-AA+A++

Oleh Melpianus Uropmabin)*

Setiap suku bangsa yang bermukim di dunia ini mempunyai kebudayaan yang unik. Demikian pula suku-suku bangsa yang ada di Tanah Papua. Papua memiliki ragam budaya. Pegunungan Bintang sebagai salah satu wilayah di Papua juga mempunyai kebudayaan unik pula. Dalam artikel ini penulis mengulas suatu mata budaya lebih khusus pada suku Ketengban, salah satu suku terbesar kedua di wilayah ini. Sebagai sebuah suku yang hidup, di Ketengban pun terdapat beragam kekayaan budaya.

Menyadari akan pentingnya pelestarian kekayaan kearifan lokal, penulis hendak mengetengahkan tarian adat yang diberi nama Limne. Nama itu tidak diberikan oleh manusia Ketengban, melainkan oleh leluhurnya yaitu Nunaibo (Allah versi suku Ketengban). Jika diartikan Limne artinya Tarian Ular . Disebut tarian ular sebab dalam pementasannya selalu membentuk sebuah lingkaran bak ular yang selalu melingkar. Sebuah tarian yang dipandang sebagai salah satu tarian sakral dan suci bagi suku Ketengban yang masyarakatnya bermukim di wilayah atau tempat berakhiran “me/mek” dan wilayah ketengban lain. Misalnya Bime, Borme, Nongme, Tanime, Kameme, Weime, Pamek, Epomek, Okbab dan Alemsom.

Tarian Limne sejak awal mula hidup dan tersebar di beberapa tempat yang disebutkan diatas dan memiliki persamaan. Meski ada kesamaan dalam atribut atau aksesoris tarian, ternyata terdapat sedikit perbedaan. Perbedaan tersebut misalnya tampak dalam intonasi atau nada pada lagu, lengkingan suara dipadu gerak tari yang diiringi gema tifa.

Apa pun perbedaan yang terdapat dalam pementasan tarian Limne, satu yang pasti adalah tujuan dari penyelenggaraan tari Limne itu sendiri. Yaitu untuk memuji Sang Pencipta (Nunaibo). Tarian Limne oleh masyarakat setempat diyakini sebagai tarian pemberian Sang Pencipta Nunaibo (Tuhan Allah) itu sendiri. Orang Ketengban mengucap syukur dan memuji kebaikan dan kebesaran Tuhan yang boleh mereka terima darinya dalam bentuk hasil panenan yang melimpah, kesehatan diri yang terjamin, memohon rahmat kesuburan tanah serta perbaikan ternak . Limne itu sendiri adalah awal permulaan penciptaan manusia Aplim-Apom yang sejati, luhur dan sakral.

Kata Limne berasal dari dua kata yang berbeda yakni lim  dan Ne. Lim artinya gunung (suatu gunung sakral di suku Ketengban), sedangkan ne berarti saya. Jadi secara harafiah Limne adalah saya sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Sang Pencipta  (Nunaibo)  di gunung Lim sebagaimana diyakini manusia  Ketengban hingga saat ini. Sama halnya dengan suku bangsa lainnya yang ada di dunia memiliki mitos tentang penciptaan alam semesta serta segala isinya. Mitos yang mana selalu diceritakan secara turun-temurun oleh para pendahulu kepada generasi berikutnya hingga dijadikan fondasi kehidupan mereka dalam menapaki hidup selanjutnya. Walaupun kini kita mengikuti mitos penciptaan suku bangsa Yahudi yang termuat dalam Kitab Suci agama Kristen, Islam dan Yahudi namun sebagian masih yakin dengan mitos suku masing-masing,  kepercayaan dari leluhur yang memiliki nilai luhur masih tetap eksis hingga kini.

Demikian pula manusia Suku Ketengban sampai sekarang masih meyakini mitos penciptaan alam semesta serta segala isinya oleh Nunaibo (Maha Pencipta) di Aplim dan Apom (Puncak Mandala), maka mereka menyebut dirinya sebagai “Manusia Aplim Apom” (Sitokdana, Melkior, Mengenal Budaya Suku Ngalum Ok, 2017:10-11).

Dengan demikian, suku Ketengban menganggap dirinya sebagai orang pertama yang diciptakan dari gunung Lim itu sendiri, sedangkan adiknya adalah gunung Apom, yang menciptakan manusia suku Ngalum Ok, sebuah suku besar lainnya di Pegunungan Bintang. Sehingga secara keseluruhan suku Ketengban maupun suku Ngalum menganggap dirinya sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Nunaibo (Ketengban) maupun Atangki  (Ngalum).

Oleh sebab itu,  ketika tarian Limne digelar, tentunya mengisahkan  permulaan penciptaan manusia dan alam serta segala keberadaan dirinya baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan oleh Nunaibo. Melalui lagu yang dinyanyikan pada tarian Limne mereka juga memuji dan memuliakan Nunaibo sebagai Sang Pencipta manusia dan alam semesta sebagaimana suku bangsa di dunia.

Tarian Limne memiliki nilai kesucian, kesakralan dan kekudusan bagi masyarakat suku Ketengban . Oleh karena itu, bagi Non Aplim-Apom tidak diperbolehkan bergabung sebagai anggota dalam acara pementasan.  Zaman dahulu tarian Limne ini jarang dipentaskan di depan umum sebab ia bersifat sakral. Oleh sebab itu keberadaan tarian Limne diketahui secara terbatas oleh pihak luar. Kini kesakralan tarian ini makin terkikis habis sebab dapat ditampilkan kapan saja bahkan untuk memenuhi acara seremonial biasa yang tak ada sangkut pautnya dengan upacara adat.

Sejatinya Limne sendiri merupakan sebuah tarian kudus dan berdimensi multi makna yakni makna filosofis, teologis, ekologis dan ekonomis. Hal ini berarti masyarakat Ketengban bermaksud menjawab atau menginterprentasikan permasalahan kehidupan sosialnya, mendambakan kemakmuran, kesuburan, kebahagiaan, kedamaian.

Lagu dalam tarian limne juga merupakan media untuk mengungkapkan rasa kecewa dan sedih yang mendalam. Oleh karena itu, dalam kebudayaan suku Ketengban, kesenian sebagai jiwanya mereka.  Semua ekspresi yang mereka tunjukkan melalui nyanyian, tarian dan ungkapan bahasa dalam keseharian mereka mengandung nilai-nilai seni dan pesan-pesan moral, filosofis, teologis, dan ekonomis. Kongkritnya adalah tetua adat selalu menyampaikan nasehat atau pesan-pesan melalui nyanyian atau bahasa kiasan ( Sitokdana, Melkior, Mengenal Budaya Suku Ngalum Ok, 2017: 141).

Sebagaimana tarian lain pada umumnya, Limne pun mempunyai aksesoris dan busana tari sejak turun-temurun seperti : Balapu (koteka), Kuelep maa Potonge (Buluh Burung Cenderawasih), Deiateng (Gelang Pinggang), Gin Sap Mar Sap (Anak Panah dan Busur), gelang tangan, gelang kaki, noken, tanah merah serta aksesoris-aksesoris lainnya. Setelah menghiasi diri penari langsung memasuki area dimana tarian akan dipentaskan. Tempat pementasan bisa di halaman rumah atau lapangan terbuka. Ketika tarian digelar tentunya diiringi dengan lagu-lagu yang merdu dan menawan. Lagu yang memanjakan telinga penikmat seni tari Limne. Lagu yang juga memberikan ketenangan dan kepuasan jiwa bagi pendengarnya.

Para penari dengan lembut menyanyikan secara bersama disertai gerakkan badan mereka dan membentuk sebuah lingkaran seperti ular. Pemimpin penari akan menyanyikan sebuah lagu dan semua penari akan serentak untuk menyanyikannya secara bersamaan. Setiap lagu yang dinyanyikan dalam tarian Limne mengisahkan tentang kisah penciptaan manusia dan alam semesta serta pembagiannya. Lagu-lagu yang dinyanyikan tersebut berbeda bergantung pada waktu disesuaikan dengan keyakinan mereka saat sang Nunaibo berjalan mengelilingi alam Aplim Apom. Oleh karenanya setiap lagu yang dinyanyikan mempunyai makna religi.

Tarian Limne tidak saja memiliki fungsi sebagaimana diulas diatas, namun juga dapat memberikan motivasi, harapan, sukacita, ungkapan jati diri, kegembiraan serta kesuksesan bagi kehidupan masyarakat dan kelompok pendukungnya. Orang Ketengban yakin bahwa dalam suasana perang mereka mesti berdoa kepada Nunaibo dengan media Tari Limne guna memohon kekuatan sekaligus perlindungan diri darinya sehingga mudah menghadapi serangan lawan (musuh).

Ketika mereka melakukan acara pernikahan adat serta acara-acara lainnya, selalu tarian Limne menjadi sebuah atraksi yang utama dalam kehidupan masyarakat suku Ketengban. Tarian ini juga dijadikan sebagai ajang pencarian jodoh bagi muda mudi atau yang belum memiliki pasangan hidup.

Selain itu, tarian Limne memberikan rasa kenyamanan kepada orang yang putus asa dalam kehidupan mereka. Dengan  tarian Limne mengubah segala sesuatu yang mengikat diri serta kelompoknya menjadi suatu jalan untuk melepaskan segala beban itu dengan jalan damai. Jalan damai yang dimaksudkan ialah ketika ada bermusuhan antara kelompok-kelompok yang bertikai. Pertikaian yang dipicu oleh pencurian hasil kebunperampasan tanah, kawin lari, perselingkuhan, perang antar kampong, perang antar sub suku dan masalah sosial lainnya. Dalam upaya memulihkan perdamaian diantara kelompok yang berkonfrontasi tersebut, upacara bakar batu babi menjadi simbol perdamaian diakhiri dengan pementasan tarian Limne sebagai ungkapkan rasa persaudaraan dan kasih sayang.

Dengan melihat betapa pentingnya tarian Limne yang mengandung nilai-nilai religi, moral, ekonomis, filosofis dan sosial tersebut maka tarian Limne mesti dilestarikan sehingga generasi berkutnya tak kehilangan jejak budayanya. Pelestarian itu dapat saja dilakukan dengan beragam kegiatan. Misalnya mengadakan iven tahunan festival seni tari tradisional, dialog kebudayaan, pembangunan dan pemanfaatan museum budaya, keterlibatan dalam iven-iven bertajuk seni, pembinaan sanggar seni dan juga diharapkan kekayaan kearifan lokal dapat dijadikan pelajaran Muatan Lokal sebagai kurikulum sekolah pada tiap jenjang pendidikan di Pegunungan Bintang.

Selain itu juga diharapkan setiap generasi muda saat ini tetap belajar serta mempertahankan tarian Limne mulai dari masyarakat lokal, kelompok, sampai ke khayalak umum agar tarian tersebut tetap lestari. Penulis mengharapkan agar budaya sebagai identitas suatu suku bangsa yang mewujud dalam seni tari contohnya dapat dijaga dan dilestarikan sehingga hubungan harmonis antar manusia dan Sang Pencipta tetap terjaga agar  tercipta kehidupan yang aman, damai dan sejahtera.

Seni di Pegunungan Bintang ibarat harta benda yang terendam, diperlukan kesungguhan hati dari berbagai pemangku kepentingan baik tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, seniman dan pemerintah. Selanjutnya mengembangkan, membina dan melestarikan serta mendokumentasikan tarian limne sehingga eksistensinya tak punah dimakan arus globalisasi. Dengan demikian generasi berikutnya tak kehilangan jejak sang leluhur Ketengban.

 

Penulis: Melpianus Uropmabin, Mahasiswa STFT “Fajar Timur” Abepura dan Anggota Aplim Apom Research Group (AARG) di Jayapura, Papua

Editor : Sostenes Uropmabin

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *