Hari itu, Sabtu sore sebulan lalu dari sekarang. Sore tampak mendung di sebelah barat kota Oksibil. Sebuah kota kecil sejuk yang terletak di lembah Sibil. Kota yang oleh orang asli menyebutnya Banal Bakon sebelum masuknya orang luar. Penulis menyusuri sebuah jalan yang baru dibuat. Jalan itu baru saja diaspal sebagian, sementara di ujung lain sedang dalam pengerjaan. Jalan tersebut membela kawasan Oktetben dan menghubungkannya dengan kawasan Ibukdol. Cuaca yang mendung itu tak menyurutkan penulis untuk memenuhi undangan seorang saudara.
Tujuan penulis bukan menuju Ibukdol melainkan sebuah rumah mungil. Sebuah rumah yang terletak sedikit menjorok ke dalam dari perumahan lain di sekitarnya di kawasan Ngutok, Desa Kabiding, Distrik Oksibil. Ketika awak media ini tiba, sang pemilik rumah sedang menghadap papan kanvas. Memainkan tangan seperti mencoret-coretnya. Acrylic dan kuas bertebaran di lantai kamar dimana ia melukis. Meski bertebaran, ia menarunya dengan rapih. Ketika semakin mendekat, barulah kami melihatnya dengan jelas. Ia ternyata melukis sebuah lukisan bercorak etnik Ngalum. Lukisan yang merekam jejak kehidupan suku Ngalum di masa silam.
Sang pelukis pun menyambut kami dengan hangat. Tak ada yang menemaninya dalam rumah yang memiliki dua kamar tersebut selain dirinya sendiri. ‘Kamar ini saya fungsikan sebagai studio lukis’ katanya. Tampak beberapa lukisan, hasil karya sang pelukis. Kebanyakan lukisan tersebut bertema kultur ngalum. Sebagian lagi berkaitan dengan kerohanian. Pelukis tersebut adalah Matheus Singpanki. Anak dari Jan Singpanki dan Yustina Uropmabin.
Kurang Pendengaran
Hasil lukisan Singpanki tentu mengundang decak kagum penikmat seni. Bagaimana tidak? Semua hasil karyanya sempurna. Singpanki memang pelukis berbakat. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan di salah satu sekolah seni mana pun. Kemampuan melukis itu telah ada dalam dirinya. Ia hanya ikut beberapa kursus melukis dan mendapat bimbingan dari praktisi seni. Selanjutnya ia bekerja dan berkreasi sendiri. Jika kita lihat dari hasilnya yang menakjubkan, tentu tak ada yang mengira ia memiliki kendala fisik. Yah, Matheus ‘kurang’ pada alat pendengar. Yang membanggakan dari seorang Matheus tidak lain tidak bukan adalah tetap berkarya (melukis) meski pun ia menyadari kekurangan pada dirinya. Tetap semangat. Tetap yakin bahwa profesi seniman (pelukis) akan membawanya pada suatu kepuasan bathin. Sambil memainkan kuas yang telah dibubuhi cat minyak pada kanvas, Singpanki mengatakan “sebagai salah satu pelukis, saya senang bisa mewujudkan objek abstrak menjadi nyata. Hadirkan sejumlah ide diatas papan kanvas”. Sebagai orang awam dalam hal seni, penulis sependapat dengan ungkapan sang pelukis.
Hasil Karya
Menelisik lebih jauh soal karyanya, Matheus mengatakan bahwa ia fokus pada karya-karya dengan tema bernuansa etnik. Mengenai ini, Singpanki masih melanjutkan “saya mencoba menguak dan merekam jejak hidup suku ngalum di masa silam diatas kanvas agar penikmat seni terutama dari suku Ngalum melihat, mengenal, belajar dan melestarikannya; sehingga generasi berikut tak kehilangan jejak budayanya”.
Beberapa lukisan hasil karyanya ia ketengahkan untuk dilihat penulis. Sebuah lukisan yang dilukisnya adalah keladi matang diatas daun keladi itu sendiri. Lukisan lain mengisahkan kebahagiaan keluarga suku ngalum yang harmonis, di kanvas berikutnya terlihat burung cenderawasih dengan latar belakang gunung. Tak beda jauh dengan sebelumnya, ia melukiskan komplek perumahan adat (Bokam dan Abip); ada pula lukisan yang menggambarkan seorang pemuda yang dihiasi mahkota Inisiasi adat (pendidikan Tena kamil) dan lain lain. Semuanya dilukiskan secara baik dengan sentuhan nilai seni tinggi.
Singpanki mengenang kisah yang tak pernah dibayangkannya. Bahwa ia pernah ke Biak dalam rangka mengikuti kegiatan Festival Seni Kreasi Papua bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pegunungan Bintang tahun 2015. Pernah juga dibawa ke Jayapura pada ajang Pesta Budaya Papua tahun 2014 oleg Dinas yang sama.
Diikutkan sebagai pelukis, ia menggambarkannya sebagai berikut “ jika bukan karena profesi seniman (pelukis), saya tak mungkin dilibatkan dalam dua kegiatan tersebut. Dinas melihat saya sebagai asset daerah di bidang seni, sehingga mereka menyertakan saya dalam kegiatan bertajuk seni itu. Ini pengalaman pertama saya menunjukkan kepada khalayak umum akan karya-karya lukisan saya. Meski pun tak ada yang membelinya, saya senang bahwa karya saya mengundang decak kagum pengunjung di stand Pegunungan Bintang tempat di mana saya pamerkan hasil karya saat itu. Di sini saya melihat bahwa ada banyak penikmat seni yang potensial, tinggal bagaimana memoles dan memberdayakannya sehingga mendapatkan manfaat ekonomi dari padanya, urai Singpanki lebih lanjut.
Potensial Namun Diabaikan
Ada berbagai profesi yang digeluti manusia di dunia dalam rangka mempertahankan hidup. Tiap orang menentukan pekerjaan menurut pertimbangan dan motif tertentu. Pelukis misalnya. Di Pegunungan Bintang Seni dilihat sebelah mata. Seni dianggap profesi yang tak membawa manfaat ekonomi bagi kehidupan. Bila diibaratkan Seni bagaikan suatu makhluk aneh yang harus dijauhi. Padahal jika kita lihat secara baik, seniman drama seperti aktor dan aktris film merupakan profesi dengan penghasilan besar. Di pulau lain, seniman memperoleh penghasilan besar dari hasil karyanya.
Pandangan tersebut ternyata tak berlaku bagi seorang Matheus Singpanki. Ia tumbuh dan berkembang sebagai seorang seniman. Bahkan seni adalah hidupnya. Tak ada hari tanpa seni. ‘Kehidupan saya tak kan berarti tanpa seni. Gamang rasanya jika tak bersentuhan dengan dunia seni’, katanya kala itu.
Meski telah menelurkan berbagai karya, tak berarti Singpanki berjalan tanpa persoalan atau halangan. Saat ditanya apa saja persoalan yang dihadapi selama menggeluti karya seni, ia mengatakan “ kendala saya adalah susah mendapatkan bahan-bahan untuk melukis. Misalnya kanvas, kulit kayu, cat air, cat minyak, acrylic dan lain-lain. Semua bahan tersebut diperolehnya atas bantuan orang lain selama ini. Saya dapatkan dari sesama yang peduli dengan karya yang saya geluti ucap Singpanki. Hal lain yang saya lihat adalah belum adanya hasil yang maksimal dari hasil karya ini.
Mengenai ini, Matheus menuturkan “ Seni memang mahal. Seni lukis apa lagi. Sebab menuangkan sesuatu yang abstrak jadi nyata memang pekerjaan yang tak mudah. Butuh intuisi seni tinggi dalam menghadirkan ide secara nyata. Karena lukisan membutuhkan intuisi tinggi dalam mewujudkannya, tak heran jika nilai jual pun tinggi. Mungkin karena itu lukisannya belum laku. Mungkin juga karena belum ada yang menyadari pentingnya seni bagi kehidupan sehingga tak membelinya. Pernah ada yang membeli satu lukisan dengan harga Rp 15.000.000,- urai Singpanki yang pernah ke Lenteng Agung, Jakarta Selatan untuk kursus seni sekitar tahun 1996 ini.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata pernah membantunya berupa bahan lukis. Tetapi sekali saja. Tak pernah ada lagi setelahnya. Saya kemudian bertanya apakah profesi seni di kabupaten ini sama sekali tak mendapat tempat di hati para pemangku kepentingan? Sehingga mengabaikan kami berjalan sendirian tanpa dukungan? Orang seperti saya butuh bantuan dari pemerintah. Jika bukan uang, minimal bahan-bahan yang diperlukan dalam olah seni lukis yang saya miliki dan jalankan selama ini, tambah Matheus seraya menundukkan kepala. Mungkin kah anda pembaca setia kami salah satu yang peduli dengannya dan hendak membantu sang pelukis berbakat tanpa dukungan ini?
Seni di Pegunungan Bintang ibarat harta benda yang terendam, diperlukan kesungguhan hati dari berbagai pemangku kepentingan, baik tokoh adat, tokoh masyarakat, seniman dan pemerintah. Selanjutnya mendukung, mendampingi serta mendokumentasikan hasil-hasil karya seni para seniman lukis tersebut sehingga mereka mendapatkan manfaat ekonomi dari padanya.
Semangat dan teruslah berkarya sang seniman Aplim Apom!!
Penulis : Sostenes Uropmabin


Tidak ada Respon