Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wpforms-lite domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wordpress-seo domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Cinta Kasih Dalam Kehidupan Orang Papua di Tengah Pendemik Covid 19 - Aktual Tajam dan Terpercaya <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-4547656984540270" crossorigin="anonymous">

Cinta Kasih Dalam Kehidupan Orang Papua di Tengah Pendemik Covid 19

Mandala Papua
Walace Dean Wiley bersma istri dan salah seorang anaknya sedang berfoto bersama dengan delapan anak dari Kabupaten Intan Jaya pada 2008 di Kabupaten Jayapura(dok pribadi Wallace Dean Wiley/Kompas/Tribunpapua.id untuk kepentingan Publikasi)
A-AA+A++

Oleh Marsico N. Sitokdana

 Covid-19 atau Corona virus merupakan salah satu virus mematikan yang pertama kali muncul di kota Wuhan, Cina pada Desember 2019 dan menyebar ke seluruh dunia pada awal Januari 2020. Virus corona menyebar ke Indonesia pada bulan Maret 2020. Mulai perlahan-lahan menyebar ke seluruh Nusantara, termasuk Papua. Penyakit ini menyerang saluran pernafasan manusia dengan gejala awal flu, batuk, sesak nafas, dan bahkan meninggal dunia.

Dengan melihat penyebaran dan perkembangan yang begitu cepat pemeritah mengambil beberapa alternatif penanganan. Mulai menghindari tempat keramaian ( social distance ), menjaga jarak, dan hilangkan budaya bersalaman dan cipika-cipiki, lockdown, karantina wilayah, penyaluarn bama dan sebagainya. Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah dan memutuskan rantai penularan virus corona di Tanah Papua. Dan juga untuk mendukung itu Pemerintah Daerah telah mengambil kebijakan daerah demi melindungi dan menyelamatkan rakyat. Salah satu upaya pemerintah Provinsi Papua ialah membatasi penerbangan penumpang melalui pesawat dan kapal dari luar ke Papua maupun antar wilayah di Papua, kecuali untuk mengantar obat-obatan dan bahan makanan. Kampus dan sekolah-sekolah diliburkan, aktivitas publik dibatasi, serta pelajar/mahasiswa dan ASN bekerja dari rumah.

Dinas kesehatan memberikan beberapa anjuran bagi masyarakat demi mencegah virus corona melalui badan internasional WHO dan anjuran kesehatan Negara dan daerah. Misalnya cuci tangan, jaga jarak, berjemur di matahari, memakai masker, mengonsumsi vitamin dan sebagainya. Semua anjuran ini demi keselamatan jiwa manusia dan memutuskan mata rantau penyebaran virus corona.

Namun beberapa kebijakan dan anjuran tersebut bertentangan dengan kehidupan sosial dan budaya orang Papua. Misalnya sosial distance dan tidak bersalaman. Budaya hidup dalam komunitas dan perjumpaan dengan sesama sudah menjadi tradisi hidup sejak nenek moyang. Terlebih khusus daerah pegunungan, bersalaman atau jabat tangan merupakan ungkapan kasih, sukacita, persahabatan, damai, keakraban dan energi positif bagi sesama. Hal ini dihilangkan maka akan timbul kecurigaan, ketidakcocokan hidup, dendam, kesalahpahaman, dan ketidakharmonisan sosial.

Indikator status corona yakni orang positif, pemantauan, pengawasan, pengumuman jumlah kasus, karantina wilayah pun dapat menambah kecurigaan, ketakutan, vonis dan berbagai tindakan tidak manusiawi dalam kehidupan kita. Hal ini menjadi problem pemerintah (keamanan) dalam upaya memutuskan mata rantai penyebaran virus corona. Namun dalam perspektif sosial kebudayaan masyarakat Papua bahwa tindakan memberikan cinta kasih itu sangat penting dari pada menyebarkan kecurigaan hoax terhadap sesama.

Pentingnya cinta kasih adalah curahan rasa peduli terhadap sesama yang membuat diri mereka nyaman dalam situasi ini. Cinta kasih itu timbul karena adanya ketertarikan antara satu sama yang lain dalam perjumpaan konkret. Perjumpaan antar sesama orang Papua merupakan perjumpaan cinta untuk memberikan kasih kepada sesama melalui menjabat tangan, bercerita, bekerja bersama, duduk bersama dan bergumul bersama. Bahwa saya sayang ko harus nyata dalam kehidupan. Setelah beberapa bulan ini diberlakukan social distance, sebagian orang Papua merasa aneh. Hal ini terungkap dalam beberapa media sosial seperti facebook, Whatsapp, instagram, dan sebagainya sebagai ungkapan ekspresi protes, menolak dan kecewa. Perjumpaan konkret menjadi jalan menyalurkan cinta kasih orang Papua bagi sesama ditutup rapat oleh kebijakan.

Namun di lain sisi bisa di katakan kasih dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya itu menjadi suatu motivasi baru sehingga seseorang tidak perlu kawatir dalam menghadapi wabah ini. Kemudian kita perlu mengetahui bahwa jangan kita merasa terbeban dalam hidup kita karena wabah ini mengajarkan kita saling mengasihi walaupun wabah ini melanda di Tanah Papua. Tindakan kasih itu dilakukan dalam kehidupan sehari-dengan menghargai sesama, tidak saling curiga, tidak menyebarkan berita hoax, bekerja kebun, menghibur, dan memberikan pemahaman yang baik dan benar. Ini bagian dari menjaga nilai-nilai kemanusiaan, budaya dan bentuk cinta kasih agar tidak merasa takut namun membuat masyarakat tenang, waspada, dan tetap sehat. Hal ini akan menjamin ketenangan psikologi masyarakat dalam menghadapai bahaya virus corona.

Orang Papua memiliki budaya kehidupan sosial yang tinggi namun dengan datangnya virus corona ini situasi kehidupan orang Papua berubah. Cinta kasih pun semakin hilang sehingga dengan wabah tersebut ini membuat orang Papua tidak bersahabat kepada sesamanya untuk membantu melengkapi bahkan mengunjungi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari  dalam lingkup keluarga dan masyarakat umum. Namun secara garis besar manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Namun situasi ini membuat kita hidup dalam keegoisan, minder, dan rasa takut kepada sesama. Ironisnya, kehidupan individualisme menjadi pola hidup baru dan akan merusak cinta kasih orang Papua serta hilangnya adat dan budaya karena virus corona. Sesungguhnya sebagai bentuk cinta kasih itulah mesti kita wartakan dalam situasi ini.

Oleh karena itulah penulis sangat mengharapkan agar orang Papua harus memiliki dan menyebarkan cinta kasih dalam kehidupan ini. Agar suasana di lingkunga sekitar kita dapat terasa aman, nyaman demi menciptakan kehidupan yang rukun dan damai tanpa adanya persetaruan antara satu sama lain ataupun di antara daerah, ras, suku, dan bangsa. Karena manusia tanpa cinta kasih bagaikan orang Papua tanpa perasaan dan akan membuat orang Papua menjadi berdarah dingin dan tidak peduli terhadap sesama dan lingkungan sekitar kita.

Akhirnya dalam penanganan kasus virus corona ini kita memiliki tugas untuk mewartakan dan menabur benih-benih kebaikan bagi sesama di sekitar kita agar tidak menimbulkan ketakutan psikologis yang mendalam, kecurigaan-kecurigaan, dan selalu optimis dalam persekutuan guna menciptakan nilai-nilai cinta kasih yang positif bagi diri sendiri maupun sesama. Hal ini kita lakukan maka kita selamatkan manusia dan budaya hidup cinta kasih di tengah virus corona.

 

Penulis   : Marsico N. Sitokdana, Mahasiswa FKIP UNCEN

Editor      : Ap Gerald B Kahipdana

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *