Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wpforms-lite domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wordpress-seo domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Bangunan Boleh Ambruk, Niat Mengapdi Tetap Membara - Aktual Tajam dan Terpercaya <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-4547656984540270" crossorigin="anonymous">

Bangunan Boleh Ambruk, Niat Mengapdi Tetap Membara

Fransiskus Kasipmabin
Anak Anak SD Inpres Sabin Okbab Pegunungan Bintang (Foto: Dok Kepsek/TP/Ilustrasi)
A-AA+A++

Tiga Ruang Kegiatan Belajar Mengajar (3 RKBM) di SD Inpres Sabin, Kapung Sabin Distrik Okbab Pegunungan Bintang ambruk dengan tanah, namun proses belajar mengajar di kelas itu tetap dilaksanakan semenjak peristiwa itu terjadi tahun 2017 lalu.  

 

OKBAB, TRIBUN PAPUA.ID— Niat yang tulus untuk mendidik anak-anak di  kampung Sabin Distrik Okbab, Papua memang  mengalir dalam dirinya, walau tiga ruang kelas di SD Sabin ambruk dengan tanah. Adalah Siprianus Kalaka, kepala sekolah SD Inpres Sabin yang dilantik oleh Bupati Pegunungan Bintang pada tahun 2012 lalu.

Ia mengapdi di sekolah itu semenjak tahun 1989 setelah menyelesaikan sekolah pendidikan keguruan Teruna Bakti tahun 1989. Selama 30 tahun lebih ia menjadi guru di sekolah itu. Modal semangat mengajar sudah menjalar di jiwanya.

“Saya guru sampai dengan diangkat menjadi kepala sekolah di SD Inpres Sabin pada tahun 2012, ucap Siprianus ketika media ini menemuinya di Oksibil, Selasa, 15 Oktober 2019 lalu. Sekolah di  Daerah daerah terjauh dan terluar memang sulit, apa lagi seorang kepala sekolah.

Memang menjadi kepala sekolah itu sulit, saya Seorang kepala sekolah merangkap menjadi guru mata pelajaran di sekolah. Kemudian saya menyusun, kurikulum di sekolah atau mau berbulan bulan mengurus gaji guru, honor atau BOSDA, BOS Pusat dan sumbe sumber lainnya di kota Oksibil atau di Jayapura.

Serba kesulitan, apa lagi kondisi geografis pegunungan Bintang yang sulit. Hanya bisa lalui menggunakan pesawat terbang, ucapnya.

Ia mengisahkan, ketika sampai di Oksibil, urusan pun terkantung kantung. Lantaran pelayanan publiK di Dinas Pendidikan Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga Pegunungan Bintang kurang Optimal, misalnya pengurusan Gaji Guru, BOSDA, BOS Pusat selalu terlambat, tidak tepat waktu. “Akibatnya kami tunggu pencairan berbulan bulan di Oksibil”ucapnya.

Begitupun tunjangan Kepala sekolah tidak ada. Walaupun ada, tapi tidak berikan. Pada hal, menurutnya tunjangan kepala sekolah sudah diatur dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia, Nomor 58 tahun 2006 tentang tunjangan tenaga kependidikan, katanya.

Bagimana Dengan Infrastruktur Sekolah Dasar Sabin

Sarana prasarana di  Sekolah dasar itu memang kurang mendukung, lantaran dari 6 RKB yang dimilki sekolah 3 Kelas sudah ambruk dengan tanah. Ruang kelas pondasinya suda lapuk dan patah. Sedangkan 1 RKB digunakan oleh para guru, jadikan sebagai kantor sekolah. Sedangkan 2 lainnya masi bisa untuk proses belajar mengajar tetap dijalankan.

Sebelumnya, sekolah itu hanya 4 RKB, namun pada tahun 2011/2012 pemerintah daerah Pegubin menambah 2 RKB lagi. Tetapi menurutnya proses pengerjaanya tidak seratus persen, pekerjaanya belum rampung. Dengan demikian sisa pekerjaan dua RKB tersebut dilanjutkan oleh pihak sekolah dengan sukarela, ucapnya.

Kemudian kepsek menjelaskan, sekolah itu semenjak diresmikan tahun 1980, kantor sekolah  di SD Sabin belum ada sampai hari ini. Tidak hanya Kantor sekolah, perpustakaan sekolah pun tidak ada sampai sekarang. Sekolah Dasar ini dibangun semenjak Pegunungan Bintang masi bersama kabupaten Jayawijaya.

Menurut kepsek Kulka, sekolah yang dia pimpin itu  berkelas enam, satu ruangan digunakan menjadi sebagai ruang guru atau kantor sekolah, sedangkan 3 kelas ambruk, 2 lainnya baik.  Walaupun 3 RKB ambruk, proses belajar mengajar di kelas itu tetap berjalan normal.

Bagaiamana Dengan Tenaga Kependidikan SD Sabin

Hanya dengan berbekal niat yang tulus dan hati yang setia untuk mendidik,  sekolah berkelas enam itu diampuh oleh 2 guru kelas, 1 guru Honda alias honor daerah, 1 TU dan 1 kepala sekolah. Sehingga jumlah guru di sekolah itu berjumlah 5 Orang.

“Tenaga kependidikan, ber SK 3, 2 diantaranya guru kelas tenaga pendidik, Honda satu orang, 1 orang kepala skeolah jadi  Jumlah 5 guru”katanya.

Namun menurutnya ada yang tidak aktif, ada urus Nasib di Oksibil. Proses pencairan lama akhirnya kami bisa bertahan di Oksbil. Tunggu pemerintah mencairkan dana BOS, akibatnya mengorbankan anak didik kami di sana, ucapnya.

Ia berharap guru mata pelajaran di sekolah yang dia pimpin harus ditambah. Kalo ada program penerimaan guru, setelah direkrut ada yang harus dibuang ke Sekolah Sabin.

Ditanya terkait perkembangan anak murid, dirinya menjelaskan soal Anak murid, dari tahun ke tahaun  ada peningkatan, baik keluar maupun masuk. Keluar biasanya 20 anak ikut ujian untuk melanjutkan pendidikan lanjutan, jelas kepala sekolah.

 

Penulis: Fransiskus Kasipmabin

 

 

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *