Pegunungan Bintang Papua merupakan salah satu Daerah yang mempunyai para penggerak Literasi, dan juga daerah yang ikut dalam pertemuan penggerak daerah seluruh Indonesia yang diadakan pertama kal, 2019, di Bima, Nusa Tenggara Barat. Selain Pegubin, Kabupaten Serui juga ikut dalam kontingen Papua untuk pertemuan tahunan penggerak daerah di Indonesia itu.
BIMA, TRIBUN PAPUA.ID—Penggerak pendidikan daerah Pegunungan Bintang mengikuti kegiatan pertemuan penggerak daerah seluruh Indonesia yang diadakan di Kabubaten Bima, Nusa Tenggara Barat pada tanggal 21-23 Oktober 2019. Kegiatan ini dihadiri oleh 29 penggerak Pendidikan daerah yang bergerak di Bidang literasi. Dari Papua, dua kabupaten yang ikut dalam pertemuan penggerak literasi itu, antara lain kabupaten Serui dan kabupaten Pegunungan Bintang.
Dalam pertemuan penggerak Pendidikan daerah itu bertujuan membahas seputar pengalaman giat giat literasi, kondisi dan kendala yang dialami penggerak penggerak daerah. Shering pengalaman, membagi pengetahuan selama melakukan gerakan literasi di daerah.
Kabupaten Bima merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang sedang giat membangun pusat Literasy di Indonesia. Dimana mana pusat kota, sudut kota selalu dihiasi dengan spanduk gerakan literasi, taman baca, pojok baca, rumah literasi dan lain lainnya.
Menurut, Marjoko, Guru SMP Negeri Oksibil mengatakan, banyak hal yang kami dapat di Bima. Baik pengalaman penggerak penggerak daerah lain. Pengalaman yang kami dapat, akan dibagikan kepada penggerak penggerak di Pegunungan Bintang.
Menurutnya, di kota Bima Pemerintah daerah dari Bupati hingga kepala Desa dukung penuh untuk, warganya membaca. Bahkan pemrintah daerah menyediakan tempat tempat membaca garatis, ucapnya.
Menuju Bima Pusat Literasi Nasional
Kabupaten Bima merupakan salah satu Daerah Otonom di Provinsi Nusa Tenggara Barat, terletak di ujung timur dari Pulau Sumbawa bersebelahan dengan Kota Bima (pecahan dari Kota Bima). Secara geografis Kabupaten Bima berada pada posisi 117°40”-119°10” Bujur Timur dan 70°30” Lintang Selatan.
Disadur dari berbagai literature, Secara topografis wilayah Kabupaten Bima sebagian besar (70%) merupakan dataran tinggi bertekstur pegunungan sementara sisanya (30%) adalah dataran. Sekitar 14% dari proporsi dataran rendah tersebut merupakan areal persawahan dan lebih dari separuh merupakan lahan kering. Oleh karena keterbatasan lahan pertanian seperti itu dan dikaitkan pertumbuhan penduduk kedepan, akan menyebabkan daya dukung lahan semakin sempit.
Konsekuensinya diperlukan transformasi dan reorientasi basis ekonomi dari pertanian tradisional ke pertanian wirausaha dan sektor industri kecil dan perdagangan. Dilihat dari ketinggian dari permukaàn laut, Kecamatan Donggo merupakan daerah tertinggi dengan ketinggian 500 m dari permukaan laut, sedangkan daerah yang terendah adalah Kecamatan Sape dan Sanggar yang mencapai ketinggian hanya 5 m dari permukaan laut.
Di Kabupaten Bima terdapat lima buah gunung, yakni: Gunung Tambora di Kecamatan Tambor, Gunung Sangiang di Kecamatan Wera, Gunung Maria di Kecarnatan Wawo, Gunung Lambitu di Kecamatan Lambitu, Gunung Soromandi di Kecamatan Donggo, merupakan gunung tertinggi di wilayah ini dengan ketinggian 4.775 m.
Luas wilayah Kabupaten Bima
Luas wilayah setelah pembentukan Daerah Kota Bima berdasarkan Undang-undang Nomor 13 tahun 2002 adalah seluas 437.465 Ha atau 4.394,38 Km² (sebelum pemekaran 459.690 Ha atau 4.596,90 Km²) dengan jumlah penduduk 473,890 jiwa[6] dengan kepadatan rata-rata 96 jiwa/Km².
Iklim dan Cuaca. Wilayah Kabupaten Bima beriklim tropis dengan rata-rata curah hujan relatif pendek. Keadaan curah hujan tahunan rata-rata tercatat 58.75 mm, maka dapat disimpulkan Kabupaten Bima adalah daerah berkategori kering sepanjang tahun yang berdampak pada kecilnya persediaan air dan keringnya sebagian besar sungai. Curah hujan tertinggi pada bulan Februari tercatat 171 mm dengan hari hujan selama 15 hari dan musim kering terjadi pada bulan Juli, Agustus dan September di mana tidak tejadi hujan.
Kabupaten Bima pada umumnya memiliki drainase yang tergenang dan tidak tergenang. Pengaruh pasang surut hanya seluas 1.085 Ha atau 0,02% dengan lokasi terbesar di wilayah pesisir pantai. Sedangkan luas lokasi yang tergenang terus menerus adalah seluas 194 Ha, yaitu wilayah Dam Roka, Dam Sumi dan Dam Pelaparado, sedangkan Wilayah yang tidak pernah tergenang di Kabupaten Bima adalah seluas 457.989 Ha.
Berbagai Upaya yang dilakukan Pemerintah daerah Bima untuk menjadikan Bima sebagai pusat Literasi Nasional. Mulai dari penerbitan Perbub Literasi Nomor 11 Tahun 2019 dan melakukan sosialisasi di wilayah tersebut.
Wakil Bupati Bima Drs. H. Dahlan M. Noer saat membuka acara Sosialisasi Peraturan Bupati Bima nomor 11 tahun 2019 tentang Kabupaten Bima Sebagai Kabupaten Literasi. Kamis (14/30/19) di Convention Hall Kota Bima. Acara sosialisasi yang diikuti sebanyak 600 peserta terdiri dari Kepala UPT Dikbudpora Kecamatan, Kepala SMP dan SD se Kabupaten Bima.
Menurut laporan di berbagai literature mengatakan Wakil Bupati Bima Drs H. Dahlan M. Noer meyampaikan dengan disahkannya perbup merupakan bukti dari keseriusan pemerintah guna melahirkan generasi baru yang cerdas, inovatif dan mandri serta berwawasan luas. Hal ini dikarenakan gerakan literasi menjadi sarana advokasi dan edukasi dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, sehingga hal tersebut dapat berkorelasi terhadap peningkatan kesejahteraan yang cerdas, inovatif, berpengetahuan sehingga menjadi basis material mewujudkan cita-cita.
Pemerintah Pusat Apresiasi Program Literasi Kabupaten Bima, karena seluruh komponen mulai dari Bupati sampai dengan akar rumput bekerja sama membangun budaya Literasi di segala pelosok.
Mengenal Penggerak di Pegunungan Bintang?
Penggerak Penggerak daerah Pegunungan Bintang dari 8 distrik bertemu di Oksibil yang difasilitasi oleh Pengajar Muda, angkatan IV, Indonesia Mengajar. Kegiatan itu diselenggrakan pada 12-13 Juli 2019 di SMP Negeri Oksibil. Penggerak penggerak Pendidikan distrik itu berkumpul shering bersama tentang giat giat pendidikan di kampung dan distrik.
Dari pertemuan itu, menyepakati meningkatkan giat giat literasi di pelosok negeri Pegunungan Bintang. Membuka Rumah baca dan mendidik secara gratis di kampung kampung. Para penggiat yang tergabung dalam Yayasan Pelita Pendidikan Pegunungan Bintang Papua ini mulai mengakar di kampung kampung.
Yayasan Pelita Pendidikan Pegunungan Bintang Papua atau disebut YP3P merupakan yayasan non profit yang dideklarasikan lima Bulan yang lalu di SMP Negeri Oksibil mempunyai beberapa bidang prioritas, antara lain Bidang Formal, Nonformal, dan Humas.
Menurut Ketua YP3P, Linche Bitibalyo, S.Pd kepada media ini mengatakan yayasan telah melakukan kegiatan yang juga merupakan program prioritas antara lain Gerakan Literasi, Kursus Komputer Gratis, Gerakan Peramuka, Perekrutan Tenaga Guru Hebat.
Program Kursus Komputer
Komputer merupakan salah satu perangkat yang diwajibkan bagi siapa pun bekerja di Institusi pemerintah, non pemerintah baik itu LSM, lembaga manampun. Untuk itu, setiap orang mampu menguasai computer. Dunia teknologi informasi saat ini, dituntut untuk mengoperasikan computer. Dengan melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada, para penggerak pendidikan di daerah Pegubin membagi pengetahuan kepada para guru di Oksibil.
Ketua YP3P, Linche Bitibalyo, S.Pd pelatihan komputer menjelaskan pelatihan guru ini diperuntukan untuk para guru SD, maupun SMP, terutama bagi mereka yang belum mahir computer.
Linche mengatakan “ Kami secara sukarela memberikan pelatihan computer kepada para guru SD maupun SMP yang belum mahir dalam mengoperasikan computer, supeya merka juga bisa tahu”ucapnya. Menurutnya, pelatihan ini diadakan setiap hari sabtu.
Selain Pelatihan Komputer, Program lain yang dilakukan adalah Gerakan Literasi. Menurtnya, Gerakan literasi sudah dilakukan kerja sama dengan Taman Baca Mabin Gubin. Sasaran dari gerakan ini kita antar buku ke sekolah sekolah, ucap linche.
Kemudian ia menjelaskan program Pramuka sudah mulai selenggarakan di beberapa sekolah. Kemarin, tanggal 16 November 2019 sudah dilakukan di SD Neheri Esipding, Distrik Serambakon, katanya. Selain itu, kami yayasan juga kerja sama dengan Dinas Pendidikan, kebudayaan pemuda dan Olah Raga untuk merekrut tenaga guru, tempatkan di sekolah skeolah yang terjauh. Program itu bernama “Guru Hebat Pegubin”.
Untuk itu, Linche Berharap program program baik ini didukung oleh semua komponen daerah, baik pemerintah kabupaten, bupati hingga kepala desa, agar kita bersama memajukan pendidikan di daerah ini, ucapnya.
Penulis: Fransiskus Kasipmabin


Tidak ada Respon