Coen Husain Pontoh
Untuk apa tentara bagi sebuah negeri?
Jawaban lurus: untuk melindungi rakyat dari setiap ancaman. Sejarah tentara negeri ini berbalut kisah-kisah kepahlawan dan perjuangan untuk meraih kebebasan. Sayangnya, kisah ini takselamanya mulus karena kekuatan melindungi tentara telah bersanding dengan keinginan untuk berbisnis. Sedangkan perintah untuk menjaga keamanan, dapat diterjemahkan sebagai operasi penangkapan para aktivis. Kisah-kisah masa lalu yang menggoreskan luka pedih menunjukkan bagaimana tentara seringkali memusuhi rakyat sendiri. Takayal, semangat demokrasi dan penghargaan terhadap nilai kemanusiaan adalah watak yang dituntut untuk dimiliki tentara. Buku ini menjawab sebuah pertanyaan: di mana tempat bagi kuasa tentara di depan rakyat dan negara?
“suara-suara menuntut pencabutan Dwifunsi ABRI tidak dapat lagi dibelokkan terlebih lagi dibungkam, mereka mewakili para syuhada dari alam kubur, suara merintih dan meraung para korban penculikkan, dan suara bisu mereka yang terbelenggu di balik tembok penjara” (Coen Husain Pontoh, penulis).
“Pontoh menggambatkan bagaimana pimpinan TNI secara sistematis berusaha mengerdilkan peranan para politisi sipil dalam arena politik. Langkah ini dibarengi dengan usaha mereka menangkal setiap ” intervensi” sipil dalam pembenahan tubuh militer, khususnya dalam pengangkatan pimpinan mereka (George Junus Aditjondro, pengamat militer).
Rincian buku:
Penulis : Coen Husain Pontoh
Penerbit : Resist Book
Tebal: xliv + 192 halaman
Berat: 300 gr


Tidak ada Respon