Oksibil, Setelah beroperasi 1, 6 tahun Portal berita seputar Tanah Papua dengan Nama Domain www.tribunpapua.id kini berubah nama menjadi www.mandalapapua.com. Perubahan nama ini berkat diskusi dan masukan dari sejumlah pihak terkait pengembangan media di Tanah Papua, termasuk Pegunungan Bintang yang bisa diterima oleh semua pihak untuk menyalurkan informasi yang Objektif dan berimbang mengedepankan kode etik jurnalistik dalam kerja kerja jurnalismenya. Media Tribunpapua.id ini berkedudukan di Oksibil, Pegunungan Bintang dan melakukan peliputan selama 1 tahun lebih. Untuk itu, perlu ada perbahan perubahan untuk terus berkarya di Pegunungan Bintang secara khusus dan Papua pada umumnya.
Nama Sibil Mandala Papua.
Nama Sibil Mandala Papua dibentuk dari tiga kata, yakni Sibil atau dalam bahasa Indonesia yang artinya Dekat, Mandala atau dalam bahasa Ngalum diberi nama Aplim Apom yang kini dikenal dengan deretan Pegunungan yang berbentuk Bintang (Puncak Mandala 1959) oleh Pemerintah Indonesia. Kemudian saat ini dikenal dengan seutan Pegunungan Bintang. Kemudian ditambahkan dengan kata Papua dengan maksud supaya media ini bisa diakses oleh seluruh Orang Papua.
Berikut ini penjelasan singkat tentang dasar pemberian nama Sibil Mandala yang kini disebut dengan Pegunungan Bintang dinukil dari Buku yang ditulis oleh Oksianus Bukega dengan judul buku “Rekam jejak Sejarah Peradaban dan Perkembangan kabupaten Pegunungan Bintang (16).
Hampir tiga puluh tahun sebelum misionaris dari Gereja Katolik menginjakkan kakinya di Tanah Aplim Apom, Pegunungan Bintang, Papua pada tahun 1959 tepatnya di Lembah Sibil (kini dikenal Oksibil, Ibu Kota Kabupaten Pegunungan Bintang), sudah ada perjalanan para ilmuwan Eropa ke wilayah Pegunungan Bintang pada tahun 1938-1939. Namun, misi mereka tidak untuk mengintroduksi peradaban modern kepada orang asli Pegunungan Bintang. Sebagai ilmuwan dan ahli geologi, tujuan utama mereka adalah meneliti sebaran kandungan mineral yang ada di dalam perut bumi daerah ini. Dua puluh tahun kemudian, setelah perjalanan ilmiah para peneliti (1959), misionaris Gereja Katolik dan Gereja Injili di Indonesia (GIDI) menginjakkan kakinya di Lembah Sibil.
Kedatangan para misionaris Gereja Katolik (1959) dan GIDI, yang disusul Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP) pada tahun 1973 ke Tanah Aplim Apom, Pegunungan Bintang, menjadi tonggak sejarah dimulainya peradaban modern bagi kehidupan suku-suku bangsa asli yang sudah lama menetap (rata-rata tujuh turunan). Ada dua suku bangsa asli yang besar di Pegunungan Bintang (Suku Ngalum Ok dan Suku Ketengban Mek) serta beberapa sub-suku lain (Murop, Kambom, Arimtap, Lepki, Omkai, Kimki, dan Una).
Dalam bukunya itu menjelaskan nama Pegunungan Bintang atau Star Mountain sebenarnya bukan nama asli bagi penduduk pribumi yang sudah mendiami daerah ini lebih dari tujuh turunan lamanya. Nama ini popular dan dapat diakses dalam peta dunia karena proses sejarah. Karenanya, tidak hanya orang yang baru datang ke Pegunungan Bintang saja, namun mereka yang berasal dari suku-suku asli di daerah ini, juga belum mengetahui apa arti sebenarnya dari nama “Pegunungan Bintang”. Juga belum diketahui siapa yang menamakannya, kapan, dan mengapa diberi nama “Pegunungan Bintang”.
Dari hasil penelusuran sejumlah literatur berbahasa Belanda dan Inggris, ditemukan bahwa “Pegunungan Bintang” adalah terjemahan dari Sterrengebergte (Bld.) atau Star Mountain (Ing.). Nama tersebut dikenal pada zaman ekspedisi bangsa Eropa untuk wilayah Timur Pegunungan Tengah Papua sampai di Papua New Guinea. Namun, arti Sterrengebergte atau Star Mountain belum diketahui secara pasti.
Beberapa literatur tentang penamaan gunung di Amerika Serikat mungkin bisa memberikan sedikit gambaran atas arti nama tersebut. Nama tersebut mirip dengan nama sebuah gunung di Pegunungan Cascade, Okangen, Barat Daya Washington, Amerika Serikat, yakni Silver Star Mountain. Wilayah ini dinamakan Star Mountain karena pola lima punggung menonjol yang memancar dari puncak dalam bentuk bintang. Kedua puncak gunung mendominasi cakrawala timur dari Vancouver, Washington. Besar kemungkinan nama Sterrengebergte atau Star Mountain di Papua juga diberikan atas dasar bentangan pegunungan yang menonjol berbentuk bintang; di puncaknya terdapat salju (Puncak Mandala) dan memancarkan cahaya yang mendominasi sebagian wilayah timur Pegunungan Tengah Papua.
Walaupun demikian, perlu diketahui bahwa nama Pegunungan Bintang sebenarnya bukan sebutan yang digunakan oleh penduduk asli yang telah lama mendiami wilayah yang kini disebut Pegunungan Bintang ini. Orang asli yang hidup di wilayah ini tidak tahu, bahkan tidak pernah menyebut dirinya orang Pegunungan Bintang. Karena itu, nama Pegunungan Bintang merupakan hasil rekayasa sejarah. Rekayasa itu diawali dengan kedatangan tim peneliti dari Eropa (1938-1939) dan kemudian tim ekspedisi dari Kerajaan Belanda (1957), yang diakhiri dengan pengibaran bendera Belanda di Puncak Juliana atau Puncak Mandala (1959). Dengan kehadiran tim peneliti dan tim ekspedisi inilah nama Pegunungan Bintang dapat diperkenalkan.
Pentingnya Media Masa
Media Massa atau berkomunikasi dengan menggunakan media (Communicate with media) sering disingkat menjadi media merupakan sebuah channel, media atau alat, saluran, atau sarana yang digunakan untuk melakukan proses komunikasi massa yang diarahkan kepada orang banyak. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), media adalah alat sarana komunikasi seperti koran, majalah, radio, televisi, film, poster, dan spanduk yang terletak di antara dua pihak orang, golongan, dan sebagainya dan memiliki fungsi sebagai perantara atau penghubung. Sedangkan massa adalah jumlah yang banyak sekali atau merupakan sekumpulan orang yang banyak sekali. Media massa menurut KBBI adalah sarana dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas diberbagai wilayah.
Sekarang ini media massa menurut para ahli memiliki peranan yang sangat besar dan memeliki pengaruh yang sangat kuat dan menjadikan media massa sebagai pusat perhatian publik untuk mengetahui dan mencari berbagai informasi, menyebarkan informasi dan menambah pengetahuan. Sumber informasi yang dijadikan sebagai bahan pemberitaan oleh media massa juga berasal dari masyarakat itu sendiri, baik dari golongan masyarakat yang memiliki basis politik hingga kepada rakyat jelata. Indonesia memiliki media massa yang beraneka ragam dengan tingkat perkembangan yang berkembang dengan pesat. Kebebasan yang diberikan negara dengan menerbitkan sebuah peraturan UU Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers.
Media Masa Berbadan Hukum
Perusahaan Media sangat penting dalam mendirikan sebuah media massa baik itu media cetak, media Online maupun media elektronik. Sebagai dasar hukum mengoperasikan media harus dibangun perusahaan dalam bentuk perseoran terbatas (PT). Untuk itulah Perusahaan Media ini diberi nama PT. SIBIL MANDALA PAPUA. Perusahaan media ini dibangun oleh sejumlah anak Negeri Pegunungan Bintang guna mengembangkan bakat di bidang jurnalisme.
Redaksi


Tidak ada Respon