OLEH INOSIUS KALAKMABIN
TRIBUNPAPUA.ID–Mencintai tanah kelahiran/kampung halaman adalah mencintai Papua dan membangun kesadaran akan cinta tanah air juga menjadi salah satu tolak ukur untuk membangun Papua dan Indonesia.
Akhir akhir ini pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi sudah menyebar luas ke seluruh pelosok tanah air, terutama di pedalaman Papua seperti kabupaten-kabupaten pemekaran, distrik dan kampung, misalnya Oksibil.
Perkembangan teknologi informasi mempercepat arus globalisasi dan modernisasi yang mengalir dari perkotaan hingga ke daerah-daerah terpencil. Berbagai pengaruh yang baik dan positif maupun yang buruk dan negatif telah tercampur dalam aliran arus yang tak bisa dibendung lagi. Mempengaruhi kehidupan sosial keluarga, masyarakat dan terutama anak-anak dan pemuda-pemudi generasi penerus bangsa dan tanah air.
Kehidupan keluarga yang dulunya hidup harmoni dan damai, sekarang mulai bertengkar dan menjauhi satu sama lain karena ingin memiliki ini dan itu bahkan angka perceraianpun semakin meningkat.
Masyarakat yang dulunya hidup saling membantu dan melengkapi satu sama lain, saling mendukung, mengadakan berbagai tari-tarian bersama di hari-hari besar, memberi sumbangan dengan suka rela berupa barang benda maupun hewan peliarahan untuk menyukseskan acara tertentu, sudah berubah sedemikian rupa. Sehingga yang terjadi sekarang adalah saling bermusuhan, saling berlomba-lomba merebut sesuatu yang diinginkan secara bersamaan, saling membeiarkan karena semuanya memiliki keinginan masing-masing, akhirnya kampung halaman menjadi sunyi sepanjang tahun, hari-hari bersarpun semakin tidak diramaikan.
Anak-anak yang dulunya bermain dan bersahabat dengan alam sekarang mulai bermain dan bersahabat dengan teknologi di perkotaan. Pemuda-pemudi yang dulunya berkumpul membantu orangtua kerja bakti, gotong royong, bercanda-tawa bersama, bercerita dan bermain bersama, sekarang sudah tidak lagi karena teknologi mengubah mereka dengan menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh.
Semua itu membuat masyarakat, kaum muda dan anak-anak bisa dibilang berada dalam keadaan krisis mental, budaya tradisional dan lokal. Orangtua dan para muda-mudi yang sebelumnya sangat mencintai tanah air dengan bekerja keras menahan rasa sakit, rasa capek, menahan panas matahari sepanjang hari di lereng gunug, di bukit, di lembah, menyebrang sungai dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka telah berubah sedemikian rupa.
Sehingga cinta tanah airpun semakin pudar karena sekarang semua pergi ke perkotaan pegang pena, pensil, kertas, belajar matematika dan tafsir mimpi (Togel) dan duduk di rumah menahan rasa nyeri otot, sakit lutut, menahan mata, tadah dingin (Judi) untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Dari sisi lain menghilangnya identitas daerah seperti bahasa daerah yang sudah tidak sering digunakan lagi, alat-alat budaya yang sudah ditinggalkan, tari-tarian adat dan nilai-nilai luhur yang selama berabad-abad hiduppun semakin menghilang/ditinggalkan.
Mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi sedemikian rupa?
Dalam kehidupan dewasa/modern ini tidak ada yang tidak tahu akan arus global yang sedang berkembang ini karena semuanya sudah tahu, jadi tidak perlu lagi yang satu mengajarkan yang lain.
Karena itu, yang diperlukan sekarang adalah KESADARAN dari setiap orang tanpa terkecuali. Setiap orang asli yang memiliki sejarah di setiap tanah air masing-masing harus menyadari realitas yang terjadi hari ini. Karena setiap orang memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar untuk melestarikan, meneruskan dan mengembangkan cinta tanah air yang sudah dibangun oleh para pendahulu (leluhur). Tetapi, realitas hari ini yang terjadi tidak seperti itu. Semuanya seakan dibiarkan berjalan dan berlalu bergitu saja karena semuanya dimanjakan dan dinyamankan oleh pengaruh global.
Hal tersebut tak dapat dihindari dan juga tidak bisa dibendung lagi. Kerena sudah sekian lama hidup ditengah-tengah masyarakat dan sudah menyatu dengan kehidupan sosial masyarakat bahkan sudah membentuk pribadi-pribadi yang baru (manusia model baru).
Karena bersamaan dengan berkembangnya ilmu pengetahun dan teknologi yang memperluas arus global ke pelososk-pelosok, orang-orang yang mempunyai keinginan akan memenuhi kebutuhan hidup menciptakan berbagai karya yang tak memandang dampak positif dan negatif bagi orang lain secara holistik.
Misalnya di Oksibil, Pegunungan Bintang, mengadakan berbagai permainan yang bagi penulis sebenarnya ditak mendidik terutama bagi anak-anak dan kaum muda penerus bangsa dan tanah air seperti togel, ludo king, kartu, judi, dan sebagainya. Permainan-permainan tersebut sudah lama hidup dan berada di tengah-tengah masyarakat Ok dan sangat berpengaruh bagi kebutuhan hidup mereka. Karena pada sebgaian seluarga-keluarga sudah bergantung pada mainan-mainan tersebut. Yang menjadi prihatin adalah bagaimana dengan perkembangan masyarakat, anak-anak serta kaum muda yang akan bertumbuh dalam situasi sosial seperti itu bagi masa depan bangsa dan tanah air? Entahlah.
Dari sisi lain, perkembangan mental dan karakter anak atau yang disebut dengan kaum milenial sangat dipengaruhi oleh handphone yang juga barang teknologi yang berkembang pesat di era milenial ini. Banyak pribadi-pribadi yang bertumbuh dengan mengikuti perkembangan teknologi sehingga yang mereka pelajari dari kecil bukan cara berburu, cara bertani, cara memanah, cara menanam, cara memanen, tapi yang mereka pelajari malah sebaliknya.
Karena dengan adanya barang teknologi yang dipelejari oleh kaum milenial adalah bagaimana cara membuka handphone, membuka medoso, belajar memaki, cara goyang (dance) ajaran budaya barat, saling bermusuhan, egoisme tinggi, bercita-cita tanpa arah dan tujuan yang tidak tidak jelas alias ikut-ikutan (tanpa ada manfaat jelas dari tujuan), dan sebagainya. Pengaruh perkembangan situasi seperti ini bukan hanya berkembang di daerah masyarakat Ok, melainkan hampir semua wilayah Papua dari gunung hingga pesisir.
Hal ini sangat memprihatinkan penulis bagi kaum milenial yang akan bertumbuh dewasa di tengah situasi seperti ini. Karena kemajuan bangsa dan tanah air di masa depan ada di tangan mereka. Sehingga untuk menanggapi hal tersebut perlu membangkitkan kesadaran dari sitap insan. Sehingga dapat membangkitkan semangat dan kemampuan untuk membangun cinta tanah air dengan kembali memegang alam yang sudah menyediakan segala kebutuhan setiap insan yang memilikinya. Bagaimana bisa berubah secepat itu? Iya bisa, kalau didasari dengan kesadaran akan cinta tanah air dan masa depan anak cucu serta bangsa dan tanah air.
Dalam menangani hal seperti ini penulis meyakini bahwa ada sebuah solusi yang bisa digunakan oleh masyarakat Ok, maupun daerah-daerah lainnya, yaitu integrasi budaya lokal (tradisional) dengan budaya modern (nasional dan internasional). Integrasi budaya yang dimaksudkan adalah memasukan nilai-nilai adat dan budaya pada masing-masing aspek dan dimensi kehidupan dengan budaya modernisasi.
Hal ini bisa dilakukan oleh setiap insan yang benar-benar mengerti budaya tradisional dan modern. Bisa juga dilakukan oleh pemerintah setempat dengan membentuk tim khusus yang diuji kompetensinya. Sehingga bisa mengarahkan masyarakat dan kaum muda dengan kegiatan-kegiatan dan permainan-permainan yang mendidik. Agar supaya perkembangan situasi sosial mendukung aktivitas setiap insan dalam bidangnya, terlebih kepada para pelajar yang sedang menempuh pendidikan bertumbuh dengan karakter yang terjamin kompetensinya.
Penulis: Inosius Kalakmabin, Mahasiswa asal Pegunungan Bintang study di Unika Atma Jaya-Yogyakarta
Editor: Erick Bitdana


Tidak ada Respon