Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wpforms-lite domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wordpress-seo domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Mengenal Marga Siktaop di Pegunungan Bintang - Aktual Tajam dan Terpercaya <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-4547656984540270" crossorigin="anonymous">

Mengenal Marga Siktaop di Pegunungan Bintang

Mandala Papua
Kampung Mangabip, Distrik Oksebang
A-AA+A++

Oleh Lektaklipky Yesterianus Kaladana

Marga Siktaop adalah salah satu marga/klen dari sekian banyak marga yang terdapat di Pegunungan Bintang. Marga Siktaop merupakan salah satu marga dari suku Ngalum. Dalam penulisan ini, Penulis menyebut marga Siktaop karena garis keturunan marga dan penyebarannya, sistem ekonomi, pendidikan adat secara khusus bagi marga Siktaop. Ada hal hal tertentu yang tidak dijumpai suku atau marga lain di Pegunungan Bintang.

Marga Siktaop yang mendiami daerah Mangabib di bawah kaki gunung Wa dan gunung Yakum, yaitu Kubibkop, Yumakot, Okse dan Ok Bul.

Wilayah suku Siktaop kini sangat familiar dalam sistem pemerintahan dengan Distrik Oksopsebang.  Alasan dasar penyebutan marga  Siktaop akan diperjelas dengan keturunan dan persebaran dari marga dan klen dari setiap keluarga. Dalam hal ini diketahui  hanya oleh penerus generasi suku Siktaop sebagai modal sosial dan kultural hidup dahulu, kini dan masa depan.

Pada umumnya marga Siktaop dari nenek moyang mereka (turun-temurun) hidup bergantung pada alam sekitarnya. Marga Siktaop menyimpan banyak sejarah yang luas dan memiliki cerita/mitos peradaban nenek moyang yang panjang. Keunikan Alam dan sejarah lainnya yang bisa di pandang, dibaca, dan direnungkan pada abad ke-21 ini.

Sebagai manusia kita harus menjaga dan memelihara ciptaan Tuhan dengan baik. Tumbuh-tumbuhan dapat memberikan kita udara yang segar sehingga bisa dapat menghirup udara yang baik.

Marga Siktaop terletak di Kabupaten Pegunungan Bintang bagian Timur dan di kelilingi oleh gunung-gunung yang menjulang tinggi diatas 3000 meter, sehingga matahari terbit dibagian timur pada pagi hari maka gunung-gunung itu bercahaya Indah dan di selimuti sinar pagi yang hangat. Semakin tinggi mataharinya naik, maka semakin dalam dan terang pula sinar matahari di bawah kaki-kaki gunungnya.

Menurut peta Batasan wilayah Distrik Oksebang (marga Siktaop) yaitu, (1)Sebelah timur perbatasan dengan Distrik Oklip (2)sebelah barat perbatasan dengan Distrik Okbibab (3)sebelah selatan perbatasan dengan Distrik Okaom dan Pepera (4)sebelah utara perbatasan dengan dataran Kiwirok-Okhika.

Daerah ini (marga Siktaop) dan alam sekitar yang indah dipandang dan menginspirasi banyak orang. Daerah ini beriklim tropis dan mempunyai curah yang tinggi sehingga ketika hujan cuacanya sangat dingin.

Pada umumnya orang oksebang (Marga siktaop) hidup di dua Ap I Wol (honai) sebagai rumah mereka. Mengapa mereka hidup di dua Ap I Wol? karena di suku Siktaop dari duluh ada berbeda-beda marga namun dapat diubah menjadi satu yaitu Siktaop.  Karena suku Siktaop dari cerita nenek moyang dan peradaban itu masih terukir di hati generasi penerus sehingga setiap orang harus saling menghargai dan menghormati setiap marga lain yang ada di Pegunungan Bintang pada umumnya Papua.

Marga siktaop memiliki satu bahasa yaitu bahasa Ngalum serta memiliki nilai-nilai luhur. Nilai sosial juga ikut menyumbangkan keunikan di marga ini yang mungkin saja tidak terdapat di marga lain.

Alam ikut menyumbangkan kekayaan termahal, terbesar dan terbaik bagi generasi suku ini. Disamping itu marga Siktaop juga mempunyai sungai Okse yang mengalir dibawah kaki-kaki gunung Wa/ Wakatop dan Gunung Anem pertengahan ini memberikan sumber air sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat penjaga sungai tersebut dan dikategorikan sebagai sungai terpanjang di daerah ini.  Mata air sungai ini di perbatasan kecamatan Okbibab dengan Distrik Oksebang.

Jika kita melihat dari latar belakang marga Siktaop ini selalu mewarnai kehidupan mereka dengan tradisi mereka seperti perang suku (marga siktaop dengan Dilam Bawi), inisiasi dan restorika hidup orang-orang itu menjadi kisah cerita di marga Siktaop. Walaupun saat ini kebudayaan mereka hampir punah karena perkembangan zaman serba digital /era globalisasi tetapi tradisi dari nenek moyang secara turun-temurun seperti budaya berkebun, berternak, berburu adalah warisan tanpa batas yang di berikan oleh nenek moyangnya untuk mereka selalu dijaga dan dilestarikan. Menurut budaya sakral bahwa kehidupan orang atau manusia dimulai dari daerah ini dan menyebar ke daerah-daerah lain.

Cerita dan kisah inilah awal mula manusia ada di Suku Siktaop dan sekitarnya. Suku siktaop menjadi rumah untuk mereka yang berhasil dan menjadi orang penting di suku ini. Terutama anak asli yang mewarisi daerah ini.

Penulis sebagai salah satu putra Siktaop, memiliki tugas dan tanggungjawab untuk selalu menjaga dan melestarikan sebagai sumber pengetahuan dan nilai hidup. Penulis merasa bangga dengan suku Siktaop yang kumiliki, warisi dan bisa menceritakan semua tentang Alamku (marga Siktaop). Terutama patut mengucap syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan Ok Mong, Nal dan Mangol sebagai sumber kekayaan modal spiritual, ekonomi, sosial dan budaya yang melimpah, utuh dan alam yang kaya nan indah di suku ini.

Marga Siktaop kini menyimpan sejuta keindahaan alam nan indah, gunung Yakum yang menjulang tinggi, sungai Oksop, Okse, Oksilaka dan Okano yang selalu mengalirkan dan menyimpan sejuta rahasia kehidupan kita suku Siktaop.

Dalam penulisan ini saya mengajak para generasi marga Siktaop saat ini untuk bertanggungjawab agar eksistensi manusia, alam dan seluruh nilai-nilai luhur kehidupan di jaga dan dipertahankan di tengah maraknya zaman globaliasai.

Oleh karena itu,  Mari kita Melestarikan alam dengan baik.  Mari kita jaga lingkungan hidup daerah kita. Jangan merusak alam lindung dengan cara membakar hutan dan menebang pohon disembarang tempat. Jangan menjual tanah dan seluruh kehidupan kita. Dan mari kita terus menjaga warisan orang tua kita.

 

Penulis: Lektaklipky Yesterianus Kaladana, Mahasiswa Asal Distrik Oksopsebang Kabupaten Pegunungan Bintang

Editor: Erick Bitdana

 

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *