Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wpforms-lite domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wordpress-seo domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Sebuah Refleksi Terkait Penyebutan Nama Aplim-Apom - Aktual Tajam dan Terpercaya <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-4547656984540270" crossorigin="anonymous">

Sebuah Refleksi Terkait Penyebutan Nama Aplim-Apom

Mandala Papua
Puncak Mandala Atau Orang Pegunungan Bintang Sebut Aplim Apom
A-AA+A++

Oleh Junius.B.Kalakmabin

Aplim Apom atau dalam bahasa Indonesia di sebut Puncak Mandala merupakan dua gunung sakral yang diyakini sebagai tempat awal mula penciptaan manusia pertama. Oleh karena itu mereka sering menyebut dirinya manusia Aplim Apom. Menurut mitos, masyarakat  Pegunungan Bintang diciptakan di gunung tersebut  dan menempatkan mereka setiap pinggiran sungai-sungai di wilayah barat, timur, utara dan selatan dari gunung Aplim Apom ini. Sejumlah sungai yang dimaksud adalah Okbab, Oksop, Okbi, Okbape, Oksip, Oktahin, Okyip, Okbem, Okhika, Bime, Borme, Pamek, Eipomek, dsb.

Sebuah refleksi dari penulis bahwa puncak mandala (Aplim Apom) adalah  tempat  awal mula Tuhan Allah (Atangki) menciptakan manusia. Masyarakat Pegunungan Bintang percaya bahwa segala sesuatu yang baik ataupun yang tidak semua berasal dari sana.  Oleh karena itu, penulis ingin menjelaskan beberapa hal tentang sebutan nama Aplim Apom. Penulis mengamati bahwa dalam setiap derap langkah hidup kita pada era globalisasi ini, orang Pegunungan Bintang selalu percaya bahwa Atangki senantiasa menuntun dan mengarahkan-Nya pada jalan yang baik dan benar. Juga alam Aplim Apom selalu menjaga dan melindungi pergumulan kehidupan kita masing-masing. Maka itu, penulis ingin mengungkapkan rasa hormat dan bangga terhadap Aplim Apom sebagai tempat awal mula peradaban manusia Pegunungan Bintang.

Namun disisi lain, penulis mengingatkan kepada para kaum milenial Pegunungan Bintang yang sering menyebutkan dan mengungkapkan kata Aplim Apom hanya sesuka hati dan tidak pada tempatnya. Padahal Aplim Apom adalah tempat yang sakral dan hanya orang-orang atau marga-marga tertentu yang mengetahuinya. Disini, penulis menyadari sesungguhnya bahwa penulis bukan seorang budayawan atau peneliti sejarah manusia Aplim Apom. Tetapi,  penulis mau merefleksikan bahwa sebagai anak Aplim Apom penting untuk mengingatkan bagi sesama yang lain, agar supaya kita mengetahui bersama bahwa Aplim Apom itu adalah tempat sakral. Maka, penulis mengajak semua orang muda agar tidak perlu mengaku diri sebagai orang Aplim-Apom jika pengakuan itu hanya sebatas ungkapan tanpa tahu maknanya.

Menurut perspektif penulis terkait sebutan nama Aplim  Apom. Aplim yang artinya  tempat yang mempunyai hal-hal yang sungguh –sungguh sakral. dan di sana terdapat sesuatu hal kelihatannya jahat atau kita sebut saja dunia “roh jahat”. Sedangkan, Apom yang artinya tempat di mana segala sesuatu dipandangan mata manusia baik adanya. Bahkan Tuhan Allah pun berada di sana, atau kita sebut di sini “surga”.

Solusinya, kita kaum milenial (generasi penerus) Pegunungan Bintang perlu mencari tahu terkait asal-usul dan adat-istiadat setempat dan mengetahuinya demi mempertahankan kesakralan dari kedua gunung tersebut. Karena, dari kedua gunung ini bagi kita orang Pegunungan Bintang percaya sebagai tempat di mana Tuhan Allah (Atangki) menciptakan manusia dan segala jenis makhluk hidup. Kita generasi penerus Pegunungan Bintang mulai sekarang mesti menyadari kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat. Lalu, tugas kita adalah mulai belajar dan mencari tahu adat-istiadat Pegunungan Bintang secara benar dengan berguru pada orangtua kita masing-masing dari setiap suku.

Setiap kita pasti memiliki asal usul yang berbeda sesuai letak geografisnya lalu juga kedudukanyang ditempati oleh Atangki (Allah) sebagaimana kita yakini. Kaum milenial merupakan pelaku kehidupan di masa modernisasi ini, maka penulis menegaskan lagi lewat sebuah refleksi ini bahwa bagi kita generasi Pegunungan Bintang seharusnya bangga dan hormat terhadap gunung Aplim-Apom. Kita tidak hanya bangga dengan kedua gunung itu sebagai simbol tetapi harus mengetahui makna dan isinya. Kalau bukan kita siapa lagi? Hanya kita sendiri yang menjaga dan menghormati puncak mandala yang kita banggakan itu. Kita mulai belajar sekarang agar supaya di kemudian hari kita tidak keliru dalam penyebutan nama yang sesungguhnya. Jangan tunggu orang lain memperkenalkan, tetapi kita yang dulu tahu dan memperkenalkan bagi orang lain.

 

Penulis: Junius B Kalakmabin, Pelajar Sekolah Penerbangan di Sentani asal KabupatenPegunungan Bintang

Editor: Erik Bitdana

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *