Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wpforms-lite domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wordpress-seo domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Peradaban Manusia Papua Ok Dari Fase Primitif Ke Fase Modern - Aktual Tajam dan Terpercaya <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-4547656984540270" crossorigin="anonymous">

Peradaban Manusia Papua Ok Dari Fase Primitif Ke Fase Modern

Mandala Papua
Tarian Adat Pegunungan Bintang, Papua, Dok. Tribunpapua.id
A-AA+A++

Oleh Evander Alwolka)*

Pengantar

Peradaban manusia Papua OK/Ngaum/Ngalum dari masa ke masa sangat penting ditulis oleh generasi muda sekarang untuk mempertegas siapa kita sebenarnya. Maka pada kesempatan ini saya mencoba tulis peradaban kita dengan mengikuti teori sosiologi yang membagi fase-fase kehidupan manusia yang ditulis oleh Bungin Burhan (2013). Dimana dalam bukunya menjelaskan peradaban suku bangsa di seluruh dunia selalu berpatokan pada budayanya. Budaya yang dimaksudkan disini adalah cara hidup yang berkembang dari masa ke masa yang diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya itu berupa sistem agama, bahasa, politik, adat istiadat, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni dan sebagainya. Salah satu unsur budaya sangat penting yang ditekanan disini adalah Bahasa. Bahasa menjadi yang terpenting dari unsur budaya lainnya yang tidak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang menganggapnya diwariskan secara genetis. Dengan bahasa seseorang mencoba berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya sehingga lambat laun menyesuaikan diri dengan perbedaan yang ada. Lebih jauh dapat dipahami budaya sebagai suatu pola hidup yang kompleks, abstrak, dan luas yang dimiliki manusia.

Adapun unsur-unsur sosial budaya tersebut dapat tersebar dan memuat banyak kegiatan sosial manusia seperti perubahan sosial. Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi sebagai proses sosial yang dialami oleh setiap individu serta semua unsur budaya dan system sosial, dimana kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal yang meninggalkan pola hidup, system sosial, dan budaya yang lama lalu menyesuaikan diri dengan pola hidup, budaya dan system sosial yang baru. Dimana perubahan sosial itu terjadi jika masyarakat bersedia untuk meninggalkan unsur kebudayaan dan system sosial yang lama dan beralih kepada unsur kebudayaan dan system sosial yang baru. Perubahan sosial dipandang sebagai konsep yang mencakup seluruh kehidupan masyarakat pada tingkat individual, kelompok, masyarakat, Negara, dan dunia yang mengalami perubahan. Hal-hal penting dalam perubahan sosial menyangkut aspek-aspek berikut, yaitu perubahan pola pikir masyarakat, perubahan perilaku masyarakat, perubahan budaya materi.

Berikut ini adalah fase-fase pentinga pada kehidupan manusia : pertama, masyarakat memulai kehidupan mereka pada suatu fase yang disebut primitif dimana manusia hidup secara terisolir dan berpindah-pindah disesuaikan dengan lingkungan alam dan sumber makanan yang tersedia. Kedua, fase agrokultural yaitu ketika pilihan budaya mereka adalah bercocok tanam dan memanen hasil pertanian dan berburu untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada fase ini budaya berpindah-pindah masih tetap digunakan walaupun dalam skala waktu yang lama. Ketiga, fase tradisional yaitu dijalani oleh masyarakat dengan hidup secara menetap di suatu tempat yang strategis untuk persediaan hidup masyarakat, seperti di pinggir sungai, dataran rendah, dataran tinggi dan sebagainya. Pada fase ini masyarakat mulai menetap dan saling berinteraksi satu dengan lainnya sehingga menjadi sebuah kelompok besar dan komunitas kampung, mengembangkan kebudayaan dan tradisi serta membina hubungan dengan masyarakat sekitar. Keempat, fase transisi yaitu kehidupan kampung yang sudah maju isolasi kehidupan hampir tidak ditemukan lagi, transportasi sudah lancar walaupun untuk masyarakat kampung tertentu menjadi masalah. Penggunaan media sudah hampir merata. Namun masyarakat transisi berada di pinggiran kota serta hidup mereka masih secara tradisional, termasuk pola pikir dan system sosial lama masih digunakan dan mengalami penyesuaian dengan hal-hal yang baru dan inovatif. Kelima, fase modern yaitu ditandai dengan peningkatan kualitas perubahan sosial yang lebih jelas meninggalkan fase transisi. Kehidupan masyarakat sudah cosmopolitan dengan kehidupan individual yang sangat menonjol, profesionalisme di segala bidang dan penghargaan terhadap profesi menjadi kunci hubungan-hubungan sosial di antara elemen masyarakat. Di sisi lain, sekularisme menjadi sangat dominan dalam sistem religi dan kontrol sosial masyarakat serta sistem kekerabatan mulai di abaikan. Keenam, fase postmodern. Masyarakat postmodern adalah masyarakat yang modern secara finansial, pengetahuan, relasi, dan semua prasyarat sebagai masyarakat modern sudah dilampauinya. Walaupun ada satu dua masyarakat yang memiliki ciri tersebut tetapi kenyataannya belum mampu, namun hal itu bersifat temporer dan meniru-niru kelompok lain yang lebih mapan.

Peradaban Manusia Papua OK di Pegunungan Bintang

Berdasarkan penjelasan fase-fase kehidupan manusia dalam teori sosiologi di atas sudah sangat jelas bagi manusia Papua OK untuk menata diri secara lebih baik. Dalam pemahaman penulis bahwa setiap fase sudah dialami oleh manusia Papua OK dan suku bangsa di Pegunungan Bintang. Cuma yang perlu dilakukan sekarang dan kedepan adalah semua orang yang telah berpendidikan tinggi wajib untuk membangun pemehaman diri dengan baik. Yang dimaksudkan disini adalah fase-fase kehidupan manusia yang ada itu kita tidak alami secara penuh seperti suku bangsa lain. Sekarang kita ada di fase keenam. Artinya mengalami lompatan yang sangat luar biasa sehingga dibutuhkan pemikiran yang tajam, kecerdasan yang tinggi dan bijaksana pada peradaban modern ini. Dimana perkembangan sekarang dituntut setiap orang ataupun masyarakat siap menghadapi semua perubahan yang diakibatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Kondisi ini yang terjadi du dunia Barat dan Dunia Timur yang taraf peradabannya sudah tinggi. Mereka sudah menciptakan alat-alat teknologi canggih yang dikonsumi orang di seluruh dunia, seperti hand phone, laptop, mobil, pesawat dan sebagainya.

Untuk menyesuaikan lompatan yang sangat jauh itu, maka manusia Papua OK dan suku-suku yang ada di Pegunungan Bintang sudah pasti ikut ambil bagian pada kemajuan sekarang. Satu-satunya keikutsertaan kita adalah dengan menjalani pendidikan dalam arti luas. Sebab hanya dengan pendidikan mata rantai panjang ketertinggalan itu bisa diminimalisir. Lewat pendidikan pula kita menata diri dengan baik demi menyelamatkan budaya kita. Kita dengan sadar mendokumentasikan dan melestarikan semua unsur budaya yang telah diturunkan dari leluhur sampai dengan sekarang. Seperti mempertahankan Bahasa Daerah yang masih gunakan kehidupan sehari-hari. Saya pikir semua unsur budaya kita masih utuh bila dibandingkan dengan suku bangsa di dunia lain.

Satu bagian penting yang perlu didalami baik oleh generasi muda sekarang adalah lakukan pendokumentasian dalam bentuk karya ilmiah atas fase-fase peradaban manusia Papua OK dan suku-suku yang ada. Hal ini penting sebagai bahan pendidikan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Nilai-nilai budaya yang baik manusia dahulu (kaka uhinkae) penting diramuh sebagai bahan pendidikan, pembinaan anak-anak sekarang (kaka petamonkae). Hanya dengan beberapa cara itu kita bisa pertahankan budaya di era yang menuntut penyesuaian budaya-budaya baru dalam waktu yang relatif cepat.

Satu fenomena yang sangat nampak sekarang adalah terjadi urbaniasi penduduk dari desa ke kota yang kemudian terjadi pergeseran nilai-nilai sosial budaya asli. Banyak perubahan perilaku yang dapat dipetakan yaitu karena terjadi perkawinan campur; bekerja di kota-kota sehingga selalu menggunakan bahasa Indonesia  dan anak-anaknya tidak tahu bahasa daerah; lama menjalani pendidikan di kota-kota besar dan sering menyangkal budayanya; ada pula pergi tinggal di daerah lain dan lupa bahasa daerah dan bahkan tidak mengenal dengan baik sanak saudaranya yang menjadi pekerjaan rumah bagi kita. Satu fenomena luar biasa yang tidak kita rasakan sekarang ini adalah terjadi perkawinan campur dengan suku-suku Melayu yang ciri khasnya bukan lagi orang Papua OK/Ngaum/Ngalum. Satu tantangan baru bagi kita.

Solusi Mempertahankan Budaya Manusia Papua OK Pegunungan Bintang

Berdasarkan pembagian fase kehidupan manusia dalam teori sosiologi yang dapat memperjelas peradaban manusia Papua OK hingga sekarang, maka perlu diringkas sejumlah solusi. Semoga solusi yang ada bisa membantu semua pihak yang berkepentingan di Pegunungan Bintang. Pihak yang bertanggung jawab penuh adalah pemerintah daerah yang membutuhkan pihak akademisi merumuskan program pembangunan menjawab problematika manusia Papua OK dan suku-suku lainnya. Berikut poin-poin yang merupakan bagian dari solusi.

Pertama, semua orang Papua OK/Ngaum/Ngalum bersepakat untuk melaksanakan satu pertemuan Adat secara besar-besaran. Dalam acara itu menghasilkan resoulis untuk kembalikan nilai-nilai budaya yang baik melalui pola pendidikan tradisional atau pendidikan inisiasi. Pendidikan inisiasi dilaksanakan untuk mendewasakan anak laki-laki dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Pendidikan selalu dipusatkan di Ap Bokam/rumah khusus laki-laki. Ada 7 tahapan pendidikan inisiasi yang wajib diikuti. Semua tugas seorang laki-laki diajarkan dalam proses ini sampai tuntas. Mereka dipersiapkan menjadi pribadi yang dewasa, cerdas, trampil dan bijaksana dalam mengambil segala tindakan. Mereka menjadi pribadi yang kuat dalam mengahadapi segala situasi, bertanggung jawab dalam problematika kehidupan. Para pendahulu menurunkan ilmu pengetahuan melalui proses ini. Mereka juga mengikuti jejak para pendahulu yang memiliki prinsip hidup sangat kuat dan turunkan nilai-nilai budaya secara benar hingga sekarang. Saya pikir para intelektual manusia Papua OK yang belum dinisisiasi perlu diinisiasi. Karena dalam kepemimpinan saja sudah banyak yang tidak bisa menghargai sesama bahkan keluarganya sendiri. Ini budaya baru yang dibawah masuk ke dalam budaya kita. Mereka sudah lupa mahop/masop. Artinya mereka sudah lupa adat, kebiasaan baik, pengetahuan yang benar dan baik yang menghargai martabat manusia di atas segalanya itu. Mahop/masop itu pegangan hidup yang wajib diturunkan dari generasi ke generasi sepanjang masa. Karena merupakan titipan Atangki/Allah kepada leluhur manusia Papua OK/Ngaum/Ngalum.

Kedua, Resolusi berikut adalah mengembalikan kesejatian manusia wanita Papua OK/Ngaum/Ngalum melalui pendidikan inisiasi sesuai dengan tata cara adat kita. Pendidikan ini pusatkan di Ap dan Ap Dikip bersama sang ibu atau wanita tertua lain yang memiliki pengetahuan yang cukup luas untuk membina, mempersiapkan wanita tangguh pada kehidupan selanjutnya. Ap dikip merupakan rumah khusus bagi wanita/perempuan suku Papua OK/Ngaum/Ngalum. Ada perbedaan mendasar sangat jelas di dalam penyelenggaraan pendidikan adat bagi kaum pria dan wanita. Mereka saling memiliki dan saling jaga kekuatan masing-masing sebagai modal hidup. Mahop/masop yang mereka terima terkait nilai-nilai kesucian, kesuburan, nilai-nilai kebijaksanaan dan sebagainya. Dalam praktik bila kaum laki-laki sakit yang cukup berat maka kaum perempuan yang bisa menyembuhkannya karena ada kelebihan pengetahuan ada padanya. Begitupula sebaliknya. Budaya ini sudah mulai mengikis habis sekarang, maka pendidikan inisiasi penting di bangun kembali. Karena pola pendidikan ini benar-benar membentuk karakter manusia yang unggul dalam hal kecerdasan, kekritisan dan kebijaksanaannya.

Ketiga, para intelektual sekarang penting dokumentasikan tentang kita secara tertulis dan disebarluaskan sebagai bahan pendidikan bagi generasi muda sekarang dan yang akan datang. Budaya kita masih utuh, tidak terlambat untuk dilestarikannya. Tetapi sekaligus mengkhawatirkan karena budaya luar sangat berpengaruh besar. Kekayaan nilai-nilai budaya kita sudah semakin terkikis melalui perkawinan campur maupun urbanisasi penduduk dari kampung ke kota-kota besar di Papua bahkan di luar Papua. Sedang mengalami degradasi nilai-nilai budaya manusia Papua OK yang jelas anak-anak yang lahir di luar Pegunungan Bintang sudah tidak tahu Bahasa Daerah orang tuanya.

 

 

Penulis: Evander Alwolka, Mahasiswa Pegunungan Bintang, Kampung Oktem Distrik Okyip

Editor : Ap Gerald B Kahipdana.

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *