Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wpforms-lite domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wordpress-seo domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Tari Panen dan Syukur Menggema di Jayapura - Aktual Tajam dan Terpercaya <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-4547656984540270" crossorigin="anonymous">

Tari Panen dan Syukur Menggema di Jayapura

Sostenes Uropmabin
Sr.Gratiansi, KSFL.Kepsek SMP YPPK.BT.Oksibil (Dok. Sostenes Uropmabin)
A-AA+A++

Perkembangan seni modern  makin beragam baik bentuk maupun jenisnya. Jika sebelumnya orang menggandrungi seni tradisional, kini kecenderungan itu memudar. Generasi muda misalnya, lebih suka seni modern termasuk tarian kontemporer seperti tari kreasi baru atau tarian dari daerah lain. Sedangkan seni tradisional semakin tenggelam ditinggalkan penggemarnya. Seni Tari tradisional di Pegunungan Bintang contohnya.

Hampir semua daerah di Pegunungan Bintang memiliki tarian tradisional. Misalnya, Oksang dan Bar dari suku Ngalum. Yasi, Aimut serta Limne dari suku Ketengban. Yangki dan Yambir dari suku Arintap. Etol, Ngorom, Raruop dan Amsang dari suku Murop. Masih banyak lagi tarian asli Pegunungan Bintang dari suku lain yang tidak disebutkan di sini.

Kekayaan budaya yang memiliki makna filosofis, filsafat, falsafah, ekonomis dan religi tersebut kini memudar karena dianggap sebagai simbol ketertinggalan zaman jika harus mempertahankannya. Generasi muda melihat dari satu sisi saja tanpa melihat segi lain. Jika disadari, sebenarnya justru dalam tarian tradisional itulah terdapat identitas dan  jati diri orang Pegunungan Bintangnya dan bukan tarian dari luar. Tarian tradisional tidak semata-mata sebuah tarian. Ia mengandung nilai-nilai kehidupan.

Perubahan paradigma berpikir dan tindak tanduk generasi muda dalam bidang seni rupanya sejalan dengan perkembangan seni kontemporer dimana seni  tidak dapat dibatasi oleh ruang dan waktu. Dengan bantuan teknologi informasi canggih yang semakin pesat, rentang waktu dan jarak tidak menjadi penghalang  dalam mempelajari sesuatu yang baru termasuk seni tari tentunya.

Kondisi yang demikian sudah tentu “memaksa” budayawan atau seniman seniwati menyesuaikan diri dengan perkembangan seni terkini. Dalam upaya mendukung sekaligus mengikuti kecenderungan itu, pemangku kepentingan dalam bidang seni budaya mesti kreatif untuk menciptakan tari kreasi baru tanpa meninggalkan esensi dari tarian tradisional itu sendiri.

Penikmat seni di Pegunungan Bintang boleh bernafas lega, pasalnya Bidang Budaya pada Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Pegunungan Bintang telah menciptakan Tari Kreasi Baru beberapa waktu lalu. Hal itu dilakukan dalam upaya menjawab kebutuhan dan perkembangan seni kontemporer dewasa ini. Dikbudpora Pegunungan Bintang bekerja sama dengan sdra. Luther, seniman asal Jayapura telah menciptakan Tari Kreasi Baru Pegunungan Bintang dengan nama Tari Panen dan Syukur. Tarian ini diciptakan dengan mengambil dan menggabungkan gerakan-gerakan dasar beberapa tarian tradisional di wilayah adat ini.

Penari SMP YPPK BT. Oksibil, sebelum tampil di FTH-Jayapura (Dok. Sostenes Uropmabin)

Kerinduan dan harapan akan Tari Kreasi Baru di Pegunungan Bintang telah lama direncanakan namun baru terwujud beberapa saat lalu. Yasinta Urpon,S.Sos,MAP, Kepala Bidang Budaya  saat itu menyatakan puas atas terciptanya Tari Kreasi Baru tersebut. Urpon melanjutkan “ setelah menciptakan Tari Kreasi Baru (Panen dan Syukur), kami tampilkan langsung di Festival Danau Sentani (FDS) ”. Selain tampil di FDS, Tari yang sama ditampilkan di iven dengan thema seni di Kota Jayapura pada ajang Festival Teluk Humbold (FTH). FDS dan FTH merupakan dua iven seni yang diselenggarakan tiap tahun di Kabupaten  dan Kota Jayapura.

Dikbudpora berterimakasih kepada Sanggar Seni SMP YPPK Bintang Timur Oksibil yang memperkenankan siswanya terlibat sekaligus mewakili daerah dalam iven seni tersebut. Kepala Sekolah SMP YPPK BT Oksibil, Sr. Gratiansi, KSFL saat ditemui di sekolah menyatakan apresiasi yang tulus atas penampilan anak didiknya yang apik pada iven Festival Teluk Humbold. Ia juga menyampaikan terimakasih yang mendalam kepada  Dikbudpora Pegubin yang mana telah memilih Sanggar Seni Sekolah yang dipimpinnya untuk membawakan Tari Kreasi baru tersebut dalam mengharumkan nama daerah. Ia menambahkan “ kami tetap membina anak didik kami untuk terus melestarikan kearifan lokal beserta dengan nilai-nilai hidup yang terkandung di dalamnya tanpa meninggalkan pembinaan iman Katoliknya”.

Marsela Kakyarmabin, siswi SMP YPPK Bintang Timur Oksibil menyatakan gembira atas penampilannya bersama rekan-rekan dalam iven Festival Teluk Humbold di Jayapura. “ini pengalaman perdana kami belajar tari dan menampilkannya langsung pada iven besar bertajuk seni. Senang menjadi bagian dalam tim seni kreasi Pegunungan Bintang. Saya belajar banyak di sini. Kegiatan yang bagi saya inspiratif. Menggugah bakat-bakat seni yang terpendam selama ini. Terima kasih juga pada Dinas yang memberikan kami kesempatan untuk mengeksplorasi bakat olah seni yang kami miliki” tuturnya usai tampil waktu itu.

Tuntutan zaman tersebut tentu membawa perubahan positif. Namun ada hal yang ’hilang’ akibat perubahan itu. Kita tak kan melihat kelenturan olah tubuh, lompatan kaki, lengkingan suara bertautan seirama tabuhan tifa dan keserasian gerak kaki yang senantiasa disuguhkan tarian tradisional sejauh ini.

Lenggak lenggok penari bukan semata tampilan dan tanpa makna, melainkan mengandung makna integral dalam diri dan hidup manusia. Bahwa peradaban dan kebudayaan terkait dengan manusia. Hidup itu sendiri adalah seni. Menilik seni sebagai suatu identitas dasar yang setidaknya memberi alasan kepada setiap individu perihal awal keberadaan dirinya.

Pelestarian seni dan budaya merupakan tanggung jawab semua pihak. Ia bukan hanya tanggungjawab seniman, budayawan, Dinas Kebudayaan, Dewan Kesenian, Dewan Adat atau Sekolah semata. Ibarat benda yang terendam, diperlukan kesungguhan hati dari tokoh masyarakat, tokoh adat, peneliti dan instansi terkait untuk melakukan penelusuran yang lebih mendalam. Selanjutnya mendokumentasikan agar generasi berikutnya tidak kehilangan jejak seni dan budaya leluhur.

Mari kita kembangkan, bina dan lestarikan bersama agar kearifan lokal tersebut tetap eksis, tak lekang dimakan oleh sang waktu.

 

Penulis : Sostenes Uropmabin

 

 

 

 

 

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *