OKSIBIL, TRIBUNPAPUA.ID—Pendidikan merupakan hal penting di dunia dewasa ini. Kita tak bisa membayangkan sebuah dunia tanpa pendidikan. Gelap gulita. Dua kata ini lebih tepat untuk menggambarkan dunia tanpa pendidikan. Ibarat secercah cahaya di tengah kegelapan. Demikianlah manusia akan berada dalam ‘kegelapan’ abadi bila tak bersentuhan dengan dunia pendidikan atau tak mengecap pendidikan.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah siapa yang mesti bertanggungjawab atas pemajuan dunia pendidikan? Bagaimana caranya memajukan pendidikan tersebut? Persoalan-persoalan itu menjadi Issue Central yang dibahas dalam Forum Kemajuan Pendidikan Daerah (FKPD) yang digelar di Kabupaten Bima, Provinsi NTB beberapa saat lalu.
FKPD Tingkat Nasional ke-5 kali ini bertema : Memajukan Pendidikan Melalui Gerakan Literasi. FKPD adalah suatu forum pendidikan yang digagas oleh Yayasan Indonesia Mengajar. Fokus kegiatannya adalah membagi pengetahuan, pengalaman dan hasil karya dari semua penggerak pendidikan di daerah masing-masing. Dalam forum ini para peserta diberi bekal pengetahuan dan selanjutnya berbagi pengalaman yang dituangkan dalam hasil karya literasi di masing-masing daerah.
Tema diatas dengan tegas menandaskan bahwa pendidikan merupakan tanggungjawab semua pemangku kepentingan. Sebab Gerakan Literasi tidak hanya dilakukan dalam pendidikan formal saja. Gerakan Literasi saat ini telah tersebar luas dan terlibat dalam pemajuan pendidikan daerah.
Pada FKPD Bima yang juga dihadiri oleh penggerak Literasi dari kabupaten Pegunungan Bintang tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Bima sendiri yakni Ibu Hj. Dhamayanti Putri. Perlu diketahui juga oleh kita bersama bahwa Bupati kabupaten Bima telah menelurkan sebuah Perbup Tentang Gerakan Literasi. Suatu terobosan yang penting dan pro pada pemajuan pendidikan daerah. Suatu gebrakan yang positif. Gebrakan tersebut sudah sepantasnya diikuti oleh pimpinan daerah lain, mengingat pentingnya gerakan literasi itu sendiri.
Berdasarkan pemantauan di lapangan (peserta FKPD berkunjung ke sekolah berbagai jenjang di Kecamatan Lambu); tidak semua sarana dan prasarana serta tenaga pendidiknya memadai. Hal itu memberikan gambaran bahwa semua pemangku kepentingan mesti bergerak bersama dalam upaya pemajuan pendidikan daerah. Perlu dukungan berbagai pihak dalam melengkapi kebutuhan sekolah, tidak hanya pemerintah. Tuntutan akan peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) adalah hal mutlak sebagaimana yang dilakukan oleh Bupati Kabupaten Bima dengan mengeluarkan Perbup literasi tadi.
Dalam sambutanya, Bupati Dhamayanti Putri mengetengahkan pentingnya gerakan literasi bagi kehidupan. Ia juga menyatakan ucapan terima kasih bagi peserta forum dan penggagas (Indonesia Mengajar) yang mana mempercayakan daerah yang dipimpinnya sebagai tuan rumah penyelenggara kegiatan FKPD Nasional ke-5 tersebut.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut berjalan dengan baik dan lancar. Beberapa gerakan literasi yang hadir dan memberikan inspirasi diantaranya adalah Rumah Baca ‘Due Nga Donahu, Pulau Savu-NTT’; Ruang Berbagi Ilmu (RUBI) di Hulu Sungai Selatan; Gerakan Muara Enim Cerdas dari kab. Muara Enim; Gugus Guru Inspiratif dari kab. Musi Banyuasin, Komunitas Peduli Pendidikan Pegunungan Bintang dari kabupaten Pegunungan Bintang serta masih banyak lagi. Selain nama diatas, kegiatan dihadiri oleh berbagai Gerakan Literasi dan dari berbagai daerah.
Kehadiran berbagai kelompok literasi dan individu pada LKPD Bima dengan jelas menggambarkan bahwa pendidikan bukanlah tanggungjawab sekolah itu sendiri atau pun Dinas Pendidikan melainkan tugas berbagai pemangku kepentingan. Catatan yang didapatkan dari penggerak literasi pada FKPD Bima antara lain bahwa tidak semua pemangku kepentingan peduli dengan pemajuan pendidikan daerah. Padahal jika banyak yang peduli, maka bebannya jadi ringan. Kelompok-kelompok literasi misalnya, mesti didukung secara baik dan berimbang sehingga misi mencerdaskan bangsa dapat tercapai.
Penggerak literasi yang hadir dalam forum tersebut datang dari berbagai profesi. Antara lain Polisi, pendeta, PNS, Tokoh Perempuan, Pemuda/I, guru dan profesi lainnya. Ini menandakan bahwa kepedulian pemangku kepentingan akan pemajuan pendidikan daerah sudah ada. Langkah selanjutnya adalah bagaimana selain sekolah formal, kelompok yang menggerakan Literasi mendapat dukungan baik materil maupun moril.
Pada FKPD Bima, perwakilan yang hadir dari Pegunungan Bintang antara lain: Bapak Mardjoko,S.Pd (Kepsek SMPN Oksibil); Ibu Margareta Bemba,S.Pd (guru SD Inpres Dabolding); Ibu Wilhelmina Christina Bowaire,S.Pd (honorer pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan); Ibu Anselina Uropmabin, S.Pd (TBM Mabin Gubin). Peserta forum FKPD ini juga merupakan anggota Komunitas Peduli Pendidikan Pegunungan Bintang.
Selain menghadiri kegiatan FKPD Bima, peserta dari Pegunungan Bintang juga ke Jakarta dan mengikuti Workshop di kantor Indonesia Mengajar. Yayasan Indonesia Mengajar memiliki motto : Setahun Mengajar, Seumur Hidup Memberi Inspirasi. Pada workshop yang dilakukan dengan gaya santai namun serius itu, peserta dibekali dengan ilmu pengetahuan yang relevan dengan situasi di Pegunungan Bintang. Bentuk workshopnya 90% praktek dan 10% teori. Narasumber hanya sebagai pengarah, sedangkan peserta diarahkan terlibat langsung. Model pelatihan seperti ini memang tepat sebab peserta memahami secara baik apa yang mesti dilakukan. Dimana peserta diarahkan untuk memetakan persoalan dan menentukan solusi terbaik. Model pelatihan seperti ini layak untuk diikuti.
Kami memandang pentingnya dukungan berbagai pihak agar pemajuan pendidikan di Pegunungan Bintang berjalan baik sehingga penuntasan buta aksara dan angka yang dikumandangkan berbagai pihak dapat tercapai. Gerakan Literasi merupakan salah satu solusi alternatif dalam pemajuan pendidikan daerah tersebut.
Salam Literasi…..
Penulis : Sostenes Uropmabin


Tidak ada Respon