OKLIP, Kurang lebih 20 tahun bapak Paskalis Sitokdana mengapdi di Puskesmas Oklip tepat 02 April tahun 2000 lalu sampai dengan sekarang ini, terkesan banyak pengalaman suka maupun duka yang dialami. Namun, masalah itu tidak mengurangi semangat dirinya, untuk terus mencuat dan berkarya mengemban tugasnya sebagai seorang pelayan bengkel manusia.
Walaupun fasilitas dan tenaga medis terbatas dirinya bekerja dengan rela keterbatasan yang ada, apalagi daerah terpencil yang jauh dari tempat keramaian kota, tentu Situasi semacam ini bagi orang lain jelas memilih menyerah adalah pilihan yang tepat. Sebaliknya dia menghadapi situasi isolasi itu dengan optimis dalam upaya mengoptimalisasi akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat di lingkungan puskesmas Oklip distrik Oklip Pegunungan Bintang.
Memang, banyak masalah yang harus ditangani dengan dukungan tenaga medis profesional dan didukung oleh fasilitas kesehatan yang memadai agar pelayanan kesehatan masyarakat harus tepat sasaran sehingga bisa dapat mengatasi persoalan kesehatan daerah itu.
Beberapa faktor yang menghambat pelayanan kesehatan di puskesmas Oklip diantaranya; Kondisi fisik bangunan puskesmas sangat memprihatinkan (belum bangun puskesmas permanen) dan perlu ada perhatian dari Pemerintah Provinsi maupun Pemda Pegunungan Bintang, karena sementara rumah tinggal kapus dijadikan puskesmas selama ini.
Bapak Paskalis berkisah, sudah beberapa kali usulkan kepada Dinkes Kabupaten Pegunungan Bintang tapi, hingga kini belum dibangun. Sedangkan fasilitas dan tenaga medis yang tak terpisahkan dari bidang kesehatan inipun belum tersedia pula seperti alat penerangan, Air bersih, aki, Diesel, komputer dan lainnya demi menunjang pelayanan kesehatan di wilayah itu.
Tenaga medis yang mendampingi Bapak KaPus berjumlah 13 orang dengan masing-masing tenaga administrasi 2 orang, kader 5 orang dan tenaga kontrak 5 orang. Sementara itu, kepala puskesmas mengatakan “disini sangat membutuhkan tenaga spesialis dokter bidang analis, gizi, lab, KIA selain tenaga medis fasilitas juga banyak kebutuhan yang belum dibangun atau disediakan seperti Pembangunan Puskesmas, lab, rumah dokter, rumah perawat Air bersih, listrik menjadi faktor penghambat pelayanan kami”tegasnya.
Pendistribusian obat dari triwulan berubah menjadi persemester menjadi salah satu kendala pelayanan juga karena meskipun obatnya habis kami harus menunggu sampai 6 bulan lewat dulu baru obat masuk. Dan semua masalah ini saya perjuangkan ke Dinas kesehatan Kabupaten Pegunungan Bintang tapi belum ada jawaban sampai sekarang, ucapnya.
Walaupun keterbatasan kapasitas pendukung yang ada selama dirinya memimpin puskesmas Oklip selama 20 tahun, salah satu momen terpenting dalam catatan sejarah pelayanan kesehatan di puskesmas oklip yang tak bisa dilewatkan adalah prestasi membanggakan yang diraih di tahun 2018.
Pertama, Memperoleh Juara 1 (satu) atas langkahnya mencetak kartu jamkesmas atau kartu pengunjung bagi pasien (PISPK) mewakili 34 puskesmas di Kabupaten Pegunungan Bintang. Kemudian tidak sampai disitu, prestasi berikut atau kedua juga mencetak rekor predikat terbaik atas kinerja dan aktivitas pelayanan kesehatan terbaik di lingkungan puskesmas oklip tahun 2019. Kedua penghargaan yang ke dua ini diberikan di tengah kegiatan Rakerda Dinkes bulan desember lalu.
Sejak 17 tahun Kabupaten Pegunungan Bintang hadir di bumi Apyim Apom, rapat kerja (RAKER) Dinkes Kabupaten Pegunungan Bintang merupakan kegiatan awal dan pertama kali dilakukan di Kabupaten ini, pada 3 – 6 Desember 2019.
10 pola dasar penyakit menjadi agenda pembahasan dalam Raker tersebut. Ditengah kegiatan RAKER tersebut, DINKES melaporkan data statistik ODHA; 609 Orang meninggal dunia, 238 orang rawat di rumah sakit dan 22 orang penderita rawat jalan. Yang paling menonjol diantaranya, (ODHA/ODHIV) karena persentase penderita maupun kematian masyarakat Pegunungan Bintang tumbuh subur dalam beberapa tahun terakhir.
Untuk mengidentifikasi dan pencegahan dini terhadap laju pertumbuhan penyakit ini. salah satu upaya depensif yang direncanakan dan akan lakukan pada tahun 2020 mendatang oleh puskesmas Oklip Adalah akan melakukan edukasi melalui penyuluhan dan pemeriksaan di kampung-kampung dan akan libatkan semua unsur masyarakat untuk mendukung kegiatan ini.
Dalam rencananya, “kami akan periksa/tes darah semua masyarakat entah sakit maupun tidak entah anak-anak maupun dewasa. Ini kami lakukan dan akan memastikan penyakit berbahaya ini. Kalau angka persentase pertumbuhan penyakit ini terus meningkat setiap tahun maka kita orang Pegunungan Bintang bisa punah dalam beberapa tahun mendatang”, ujar piria kelahiran 58 tahun yang lalu ini.
Penulis: Komokunokweng Kalalakmabin
Editor: Fransiskus Kasipmabin


Tidak ada Respon