Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wpforms-lite domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wordpress-seo domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/tribunpa/public_html/wp-includes/functions.php on line 6170
Kebiasaan Masyarakat dan Tantangan Pendidikan Bagi Perempuan Kawor - Aktual Tajam dan Terpercaya <script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-4547656984540270" crossorigin="anonymous">

Kebiasaan Masyarakat dan Tantangan Pendidikan Bagi Perempuan Kawor

Mandala Papua
Ibu Antonia Oropyana, (Dok TB)
A-AA+A++

Pola piker yang selama ini dibangun dari generasi ke generasi bahwa perempuan dilahirkan untuk kawin harus dirubah. Memberikan kesempatan kepada kami perempuan Kawor untuk bisa bersekolah dan meraih mimpi seperti perempuan lain di daerah Pegunungan Bintang mapun Papua  secara umum, kata Antonia Oropyana.

BUMI ARINTAB, TRIBUN PAPUA.ID— Kebiasaan hidup setiap suku bangsa di dunia tentu sangat  berbeda. Kebiasaan yang baik maupun buruk, seiring perkembangan saman, kebiasaan tersebut bisa kontras dengan kebiasaan atau budaya orang lain. Untuk itu diharapkan kepada masyarakat mengikuti gerak saman agar tidak mempertahankan kebiasaan buruk ataupun menolak arus perubahan saman yang bisa menguntungkan atau bisa berdampak baik terhadap keberlangsungan hidup masyarakat. Perluh juga memfilter hegemoni kebudayaan orang lain agar tidak  memporak porandakan tatanan hidup masyarakat setempat.

Seiring perkembangan pembangunan di daerah tentu bisa merobah tatanan hidup masyarakat lokal, terutama tatanan sosial budaya:  kekerabatan, persaudaraan, nilai nilai isti adat yang dibangun dan budayakan dari generasi ke generasi.

Kebiasaan masyarakat dalam tulisan ini adalah terkait dengan sebuah  pandangan dimana perempuan dilahirkan untuk kawin atau menikah saja dan tidak untuk beraktifitas termasuk dilarang bersekolah. Untuk itu, apapun aktifitas yang dilakukan oleh perempuan Kawor dilarang ataupun tidak diakui oleh masyarakat. Pandangan itu dibangun oleh semua laki laki dari turun temurun sampai dengan hari ini, akhir tahun 2019.

Perempuan dilarang sekolah, tidak berhak mendapatkan pendidikan. Anak perempuan berumur sekolah (SD) pun orang tuannya melarang sekolah. Bahkan orang tua perempuan mencari tunangan untuk dinikakan. Bahkan Orang tua perempuan dan orang tua laki laki sudah dilakukan perjanjian pertukaran anak perempuan atau laki laki. Selain itu, perempuan bisa menutup beban beban oran tuannya. Misalnya orang tua meminta seseorang untuk membunuh orang lain, maka anaknya bisa menikakan pelaku tersebut. Ibarat perempuan sebagai alat pembayaran atas beban orang tua atau keturunan mereka.

Kebiasaan ini membudaya dan mengakar hingga pada hari ini, walau perkembangan di semua bidang, baik itu Greja, pendidikan, pemerintah distrik dan kampung pandangan kuno ini terus dipelihara sampai  mengakar hingga menjalar ke anak anak masa kini.

Pantauan media ini di distrik Kawor perempuan berumur sekolah sudah pada menggendong anak  kecil, bayi maupun sudah mengandung. Keluarga muda mendominasi 7 kampung distrik Kawor Pegunungan Bintang, sedangkan orang tua jarang temui distrik tersebut.

Tantangan Pendidikan Bagi Perempuan Kawor

Walau Sekolah Dasar (SD) Inpres Kawor dibuka tahun 1985, pandangan perempuan dilarang sekolah tersebut masi saja berlaku di daerah itu sampai dengan tahun 2019. Antonia Oropyana, mengisahkan dirinya sudah masuk sekolah di SD Inpres Kawor tahun 1988, namun kakaknya mengeluarkan dari bangku sekolah dasar tersebut dan dikawinkan.

Ia menjelaskan “saya bersama kaka saya mulai sekolah, namun beberap bulan kemudian, kaka saya meminta saya untuk keluar dari sekolah. Setelah dikeluarkan orang tua dan kakak saya bertemu orang tua suami untuk menyiapkan perkawinan adat dilakukan” jelasnya kepada media ini, kamis 26 Desember 2019 di Kampung Arintab Distrik Kawor.

Kemudian Antonia menyesalkan peristiwa itu. Ia menyadari pentingnya sekolah, mengikuti pendidikan dari tinggkat SD hingga perguruan tinggi. Ia memandang yang bisa merubah diri, masyarakat dan daerah ini tidak lain harus melalui pendidikan. “Saya menyesal atas peristiwa itu, harusnya saya sebagai perempuan kawor diberikesempatan untuk bersekolah. Perempuan juga bisa sekolah hingga memperoleh gelar sarjana dari perguruan tinggi dan mengisi posisi posisi penting di daerah ini” katanya dengan nada kesal mengingat peristiwa kelam itu.

Untuk itu ia bersandar kepada kakaknya yang kini diangkat menjadi kepala distrik Korowai Batu. “Karena kaka saya yang mengeluarkan sekolah, maka saya selalu bilang kepada dia untuk membiayai hidup anak anak saya. Kaka saya bertangungjawab itu. Kalo kaka saya tidak urus untuk dikeluarkan dari sekolah demi kepentingan kekayaan, maka  saya juga bisa seperti kaka saya itu” tegasnya.

Pola piker yang selama ini dibangun dari generasi ke generasi bahwa perempuan dilahirkan untuk kawin harus dirubah. Memberikan kesempatan kepada kami perempuan untuk bisa bersekolah dan meraih mimpi seperti perempuan lain di daerah Pegunungan Bintang mapun Papua  secara umum, kata Antonia Oropyana.

Untuk keluar dari belenggu tersebut, anak anaknya Antonia sekolahkan di Tanah Merah kabupaten Boven Digoel. Ia memandang bahwa anak ananknya penting untuk keluar dari zona darurat itu, agar mereka bisa meraih mimpi mimpi mereka di masa mendatang. Salah satu anaknya kini sekolah di Seminari Menengah St. Fransiskus Asisi Waena Jayapura. Sedangkan anak anak perempuannya kini sekolah di Tanah Merah.

“Saya memilih keluar dari zona aman ini,  supaya anak anak saya bisa mendapatkan hak pendidikan seperti orang lain”ucap Antonia.

Ia menjelaskan berikan kesempatan kepada kaum perempuan untuk bersekolah. Agar Mereka bisa mendapatkan hak  pendidikan yang layak. Kami perempuan bukan budak, kami dilahirkan seperi kaum laki laki, untuk itu berikan kebebasan kepada semua perempuan untuk memperoleh hak haknya.

Ia pesan kepada perempuan Kawor untuk melawan budaya kuno ini, sekarang ini bukan samannya untuk mempertahankan kebiasaan buruk tersebut. “Kita harus menolak atas kebisaan buruk yang dibangun oleh kaum pria Kawor ini. Saya pesan kepada perempuan untuk harus bersekolah, menolak hasutan orang orang yang tidak bertanggung jawab”tegasnya.

Perempuan Kawor mari melawan pola piker selama ini bahwa kami dilahirkan bukan untuk kawin ataupun nikah di usia sekolah. Kalian perempuan Kawor harus meraih mimpi mimpi, harus menjadi tuan di Negeri Sendiri, kata Antonia dengan nada tegas.

 

Penulis: Fransiskus Kasipmabin

 

 

 

Tidak ada Respon

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar disini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *